Minggu, 20 Januari 2008

Stasiun Tawang yang Luar Biasa



MENAPAK SEJARAH KERETA API
DI STASIUN SEMARANG TAWANG

Sebuah bangunan megah berdiri terpisah dari bangunan lain di sebelah utara Kawasan Kota Lama Semarang. Bentuknya mirip bangunan dengan fungsi sejenis, sebagai tujuan dan transit kereta api. Bangunan induk diapit bangunan memanjang di kanan kirinya. Bangunan induknya berbeda, ciri khas bangunan yang dibuat semasa pemerintahan Hindia Belanda.

Stasiun Semarang Tawang namanya. Tinggi bangunan dengan pilar dan tembok kokoh membentuk kemegahan. Bagian puncak atap yang berbentuk kubah menunjukkan gaya arsitektur masa itu. Bentuk lengkung dan persegi mendominasi ornamen bangunan. Kanopi di depan pintu masuk menambah kesan eksklusif stasiun ini.

"Isi surat dari direksi NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg) di Belanda pada direksi NIS di Indonesia, mengharapkan pembangunan stasiun yang fungsional. Untuk bangunan stasiun, tidak boleh jelek, namun tidak harus megah," tutur Cahyono, pencinta kereta api Indonesia, Kamis (8/12).

Pada 29 April 1911, NIS mulai mewujudkan hasil rancangan Sloth-Blauwboer ini. Tiga tahun kemudian, stasiun itu siap beroperasi. Bersama Stasiun Semarang West (Poncol) dan Stasiun Central (Jurnatan), Stasiun Tawang dipersiapkan untuk menyambut koloniale tentoon stelling.
Stasiun Tawang menjadi pintu kedatangan tamu. Tidak mengherankan jika lobinya menunjukkan keanggunan. Warna putih menutup hampir semua tembok bagian dalam. Warna coklat tembaga menjadi penghiasnya, baik ornamen bangunan maupun hiasan lainnya. Pahatan batu yang melukiskan dua loko dan rangkaian kereta api menghiasi keempat sisi tembok. Sementara pusat ruangan yang segaris dengan atap kubah diterangi empat lampu hias dengan warna senada. Jendela kaca memanjang di sekeliling bangunan bagian atas, termasuk di bawah kubah, menambah penerangan.

Menurut Kepala Stasiun Tawang, Purwanto, bentuk bangunan utama saat ini tak banyak berubah, meski ada penambahan dan renovasi, termasuk peninggian lantai. Dua kali peninggian dilakukan pada tahun 1990-an. Pasalnya, limpasan air laut (rob) yang mengancam wilayah utara Kota Semarang mulai masuk ke kawasan stasiun. Hampir 1,5 meter tinggi bangunan berkurang karena pengurukan. Akibatnya, sejumlah bagian terpaksa disesuaikan, misalnya, pengurangan tinggi pintu.

Bangunan stasiun itu masih terawat baik. Fungsi bangunan masih dijaga sebagai stasiun kereta api. Apalagi, volume penumpang per tahun di stasiun ini mencapai lebih dari 600.000 orang. Namun, hanya sedikit yang menyadari stasiun yang ditapaki adalah bangunan bersejarah.
(dimuat di Kompas Edisi Jawa Tengah, 9 Desember 2005)

NB: Disertai ralat untuk nama salah satu narasumber saya. Tertulis "Cahyono" yang benar adalah "Tjahjono Rahardjo". Maap ya, Pak Cahyono...eh Tjahjono ;)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Tau gak jeng, stasiun itu tempat yang paling romantisss. Di situ aku selalu melihat kembang api meletup-letup ketika ada perjumpaan, dan juga mengendus sayuran layu karena kelamaan direbut ketika ada perpisahan.

Anonim mengatakan...

Hmmm...betul jeng, stasiun emang berpotensi besar menjadi saksi kenangan buat yang menginjaknya.

!@!**! mengatakan...

alamatnya dimana ya? Saya rencana akan semarang dan pulang ke jakarta naik kereta di stasiun tersebut. Saya sudah cari di google belum ketemu.

sugieh mengatakan...

Silakan berkunjung aja...Stasiun Tawang ini stasiun terbesar di Kota Semarang. n kalo misalnya penumpang kereta eksekutif pasti naik/turun di Stasiun ini. Stasiun Tawang lokasinya di Jl Taman Semarang Tawang No 1, Kawasan Kota Lama Semarang.