Jumat, 29 Februari 2008

pembangun vs penerus


ada pondasi di situ.
siapa yang dulu membangunnya?
siapa yang akan meneruskan pembangunannya?
bagaimana kalo ternyata penerus pembangunan itu tidak secakap sebelumnya dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan dengan pondasi yang sudah ada?
Huuuuuhhhh.......
Hmmm...........
bangunan seperti apa yang akan berdiri?

Minggu, 24 Februari 2008

langkah penting


tahun kedelapan bulan kedua hari ketujuhbelas.
one step forward.
with all wishes in the air...
dengan menyebut nama Allah.

Minggu, 10 Februari 2008

Very Important Person

Emang enak jadi pejabat!
Setidaknya selama beberapa jam ikut merasakan fasilitas pejabat yang emang enak ini.
Minggu siang saat santai sejenak di rumah sodara seorang rekan yang ikut rombongan di Wonosobo setelah dari pagi ikut acara menanam.
Tiba-tiba kabar yang sudah ditunggu-tunggu dari dua tahun lalu, terutama beberapa hari terakhir, akhirnya masuk. Kabar bahwa mantan RI-1 akhirnya mangkat. Langsung pamit cabut. Berubah arah dari semula kembali ke kandang di Semarang menjadi ke Solo. Kota yang paling dekat dengan lokasi pemakaman mantan RI-1 tersebut.
Sepanjang jalan ngebut, sms-sms, telpon-telpon, diramaikan gonta-ganti saluran radio menjaring info terbaru dari jauh.
Sampai Bawen belok kanan mulai masuk rute ke Solo yang termasuk sempit dan padat. Sudah agak pesimis bisa berlari sekencang sebelumnya.
Baru belasan kilometer pertama, dari belakang nguing-nguing sirene ramai mendekat. Beberapa mobil dan truk polisi di barisan depan disusul mobil-mobil plat B di belakangnya dan ditutup mobil polisi lagi. Semuanya dengan lampu kanan-kiri mengedip. Sebentar. Di belakangnya ada mobil sejenis carry yang tampak “kurang meyakinkan penampilannya sebagai anggota konvoi orang-orang penting”, meski berplat H.
Semua orang minggir memberi jalan.
Kami pun.
Beberapa detik berpikir, akhirnya mobil dipepet di belakang carry berplat H. Lampu kedip dihidupkan, kecepatan dijaga sejurus dengan konvoi panjang itu.
Hasilnya, perjalanan tergesa kami ke Solo lancar dan nyaman.
He..he..he..he...
Melanggar hukum? UU apa ya? Pasal berapa ya?
Tapi tujuannya kan sama....menuju Solo buat nyiapin sambutan peristiwa terpenting awal tahun ini “Kematian Paman Gober”.
Yeah....enak juga jadi very important person ya ;)

Piiiiiss.....

Selasa, 05 Februari 2008

Hijaukan Bumi Saat Ini Juga





Perhatikan dua gambar potongan dua bukit di atas. Kali ini permainan mencari titik perbedaan. Apa yang terlihat?
Betul! (kalo jawabnya sama dengan yang berikut) dua gambar itu berasal dari foto yang sama. Hanya keduanya sudah di-adjust sehingga menonjolkan dua hal yang berbeda. Gambar pertama, hanya sedikit disesuaikan contrast ‘n tone-nya sehingga menonjolkan kehijauan tanaman yang masih menutupi seluruh hamparan bukit.
Gambar kedua, cenderung ekstrim untuk penyesuaian contrast, tone, ‘n brightness-nya. Hasilnya, hanya tanaman yang cukup besar seperti pepohonan yang tampak tebal hijaunya sementara tanaman pendek “menghilang” dan menampakkan coklatnya tanah.
Gradasi ketebalan selimut Bukit Menjer terlihat jelas di gambar kedua. Padahal, lihat gambar selanjutnya yang menampakkan potongan keindahan Menjer.
Menakutkan!
Ya!
Sangat menakutkan!
Gambar yang diambil seminggu yang lalu ini benar-benar menampakkan betapa tipisnya perlindungan dataran tinggi tersebut. Pembukaan pertanian yang tidak ramah lingkungan bertumpang tindih dengan aksi penebangan pohon tak terarah.
Perbukitan yang mengelilingi Telaga Menjer di Kabupaten Wonosobo ini konon dahulu penuh dengan pohon pinus. Hutan.
Seorang teman asli Wonosobo membagi kisah masa kecilnya. Dulu Telaga Menjer ini memiliki aura “singup” karena dikelilingi bukit berhutan. Kesempurnaan hutan di dataran yang lebih tinggi pun dulu mengalirkan air memasuki telaga ini. Beberapa cerukan lurus seperti sungai tampak tergores vertikal di punggung bukit. Saat ini berwarna hijau. Bahkan, di salah satu bagian terdapat lobang terusan yang mengalirkan air dari Sungai Serayu untuk menjaga volume air di Telaga ini. Pendangkalan berlangsung. Selimut hijau muda yang tidak mampu mengikat air di tanah yang ada di atas Telaga ikut menyumbang penyusutan volume air di tempat ini.
Padahal, air dari Telaga Menjer menjadi sumber tenaga sebuah pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang ada di bawahnya.
Bola salju kerusakan lingkungan dan dampaknya terus menggelinding.
Terakhir ke tempat itu, minggu lalu.
Telaga Menjer penuh dengan manusia yang datang dari berbagai penjuru.
Acaranya bertajuk “Wartawan Menanam”.
Para birokrat dari menteri, gubernur, bupati, hingga staf desa hadir. Kumpulan orang pers (saat itu) menjadi tokoh utamanya. Dimeriahkan ratusan anak sekolah berseragam yang bertugas mengawal masing-masing bibit pohon yang sudah bernama dan sebagian lainnya berderet rapi di sepanjang jalan menuju lokasi yang menanjak itu untuk memberikan sambutan bagi para pejabat yang hadir.
Heboh!
Demi kampanye hijau...
Tak apalah kalo hasilnya ada ratusan bibit pohon yang tertanam lagi di bumi.
Semoga mereka dirawat dan dibiarkan tumbuh hingga puluhan tahun ke depan.
Demi masa depan.
Demi generasi hijau yang lebih baik.
Demi Tuhan.