Tampilkan postingan dengan label nyemilnyemil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyemilnyemil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2009

Celebes: It’s all about banana!






Di sini di Celebes ini, pisang mendapatkan pasangan yang sangat bervariasi. Dari ujung Mamuju sampai Makassar, setidaknya ada empat macam olahan pisang sebagai camilan yang sempat aku nikmati. Itu yang kebetulan ketemu, entah dengan variasi apa lagi kalau mau benar-benar mencarinya.

Tiga dari empat variasi camilan pisang itu berupa gorengan pisang. Sisanya, pisang yang dibakar. Rasanya tidak seragam karena pasangannya pun berbeda-beda. Mari kita ingat-ingat bagaimana rasanya. Maklum ini sebenarnya oleh-oleh sebulan yang lalu saat perjalanan sesi pertama ke sini.

Pisang goreng ala Bu Syarif di Mamuju membuat inderaku terkesan. Pisang dibelah menjadi dua tepat di tengahnya. Masing-masing kemudian digoreng kering setelah sebelumnya dilapisi adonan tepung tipis. Pisang yang menjadi renyah ini lalu ditaburi palm sugar atau gula pasir coklat. Tidak berhenti di situ, parutan keju ditaburkan di atasnya. Renyah dan manis-gurihnya pisang goreng melekat dengan manis khas dari palm sugar yang terasa saat butir-butir gula tergigit dan tersentuh lidah. Rasa gurih keju menjadi penyeimbang rasa. Camilan sore itu memang juara. Selain rasanya enak, cantik pula dipandang mata. Kuning kecoklatan dari pisang dihiasi butir-butir gula coklat dan parutan keju yang cerah. Perfecto!

Camilan pisang goreng selanjutnya tersaji waktu mampir ke kantor penyelenggara pemilu di Polewali Mandar. Goreng pisangnya mirip dengan yang biasa kita temui. Pisang dibelah tapi tidak sampai terputus dan dibentuk seperti kipas lalu digoreng dengan tepung. Rasanya pun biasa, manis-gurih. Yang berbeda adalah pasangannya. Semacam sambal yang unik. Campuran gula merah, cabai, dan asam. Pasti sudah terbayang rasanya. Manis, pedas, masam. Waktu itu dengan perpaduan yang tepat. Cara makannya pisang goreng tadi kita cocolkan ke sambalnya. Rasa baru yang menantang!

Yang satu ini ditemukan di kawasan pantai di Pare-pare. Pisang goreng berbalut tepungnya masih sama. Sama juga dengan yang di Polman dipasangkan dengan semacam saus. Ketika membeli pisang goreng di sini kita akan mendapat saus kuning dalam plastik. Tapi sayang, si penjual yang cantik waktu itu tidak bisa menerangkan dari campuran apa saja saus penyerta pisang jualannya tersebut. Yang jelas rasanya masam, sepertinya masam dari jeruk nipis karena ada biji-bijinya yang terangkut. Ada sedikit rasa gurih dalam saus itu, cuma sekali lagi sayang aku tidak tahu apa itu. Buat indera perasaku, perpaduan pisang goreng dan saus kuning ini aneh. Hmm…

Yang terakhir, bukan pisang goreng melainkan pisang bakar. Banyak ditemukan di sepanjang kawasan Pantai Losari, Makassar. Nama yang tertempel di kaca gerobak penjualnya “Pisang Epe”. Membeli camilan pisang ini harus sedikit sabar. Pasalnya, setelah kita memesan sang penjual baru akan mengambil pisang dari tumpukan yang sudah dibakar sebentar dan membakarnya lagi di atas bara. Setelah dirasa cukup, pisang terbakar tadi dipres di antara dua potong kayu persegi. Teringat perlakuan yang mirip juga di Semarang, tapi di sana dengan sebutan “pisang plenet”. Setelah bentuknya menjadi lebih pipih, pisang disajikan dengan beberapa alternatif penambah rasa. Terserah kita. Ada larutan gula merah (di Semarang disebut “kinco”, di Solo disebut “juruh”). Ada keju. Ada pula meisis coklat. Waktu itu aku pesan lengkap, dengan gula merah, keju, dan meisis. Rasanya terbayang lah kalo yang ini. Perpaduan gurih, manis gula merah, dan manis coklat. Perlu diperhatikan komposisinya. Waktu itu porsiku terlalu banyak gula merahnya jadi gurihnya pisang dan keju jadi terkalahkan. Maniiis hehehehehe….

Pisang-pisang dan pisang……

Kamis, 05 Februari 2009

Celebes: Anjoro Mangura


Anjoro mangura. Dua kata itulah yang dicetak tebal dengan huruf besar di atas kain panjang seukuran spanduk yang sekaligus sebagai latar belakang warung semi permanen di tepi salah satu pantai di Selat Makassar.

Malam itu, menikmati anjoro mangura menjadi agenda yang dibuat keluarga Syarif untuk menjamuku. “Ya biar nanti ada yang bisa diceritakan sama Mas-nya di sana,” kata Pak Syarif saat melontarkan ajakan. Lalu, apa sebenarnya anjoro mangura itu? Anjoro mangura ternyata kata-kata yang digunakan orang (setidaknya) Mamuju, Sulawesi Barat, untuk menyebut ‘kelapa muda’.

Sama seperti di daerah asalku—Jawa—minuman ini berisi air dan serutan daging buah kelapa yang masih muda. Sama seperti di sana juga, minuman ini ditawarkan bisa dengan pemanis gula merah atau sirup. Sama juga pada kelaziman penyajiannya, yaitu dalam kondisi dingin karena ditambahi es.

Tapi ternyata, setelah segelas anjoro mangura terhidang di depan mata beda-beda bermunculan. Yang pertama terlihat ada bersama sepiring camilan pendamping—kali ini kacang goreng. Pembeda itu adalah irisan jeruk nipis yang siap peras. Artinya, minuman ini (aturannya) dicampur dengan perasan jeruk nipis sebagai penyegar. Hmm..sepertinya cocok apalagi ketika melihat pekatnya air dalam gelas karena cairan gula merah.

Air perasan seiris jeruk nipis masuk ke gelas. Niat hati mau meratakan rasa masamnya yang segar dengan adukan sendok, tak disangka pembeda berikutnya terlihat. Tidak hanya serutan daging buah kelapa muda saja yang ada di dalam gelas, melainkan juga butiran-butiran sagu. Sagu, pemirso!!

Butiran sagu terasa lembut di mulut. Serutan daging kelapa mudanya juga terasa….hmm….rasa kelapa muda memang beda. Lembut sekaligus gurih dan rasa lain yang susah dideskripsikan dengan diksiku yang terbatas. Rasa yang sangat istimewa di lidah. Gula merah cair pun mempermanis kombinasi tadi sementara perasan jeruk nipis berhasil mempersegar rasa. Komposisi yang pas terasa, apalagi disajikan dingin.

Minuman yang segar, udara dan angin pantai yang nyaman, serta keluarga baru yang menyenangkan, adalah perpaduan yang tepat. Kenangan yang ingin diulang.


Jumat, 23 Januari 2009

Celebes: Ikan Rebus ala Mandar





“Tante, ini cabainya seberapa?,” tanya Tegar sambil menyisihkan cabai-cabai yang menurutnya masih bagus. Tante yang dimaksudnya adalah Bu Syarif, ibu si Ical teman baruku. Di rumah merekalah kemudian aku tinggal selama di Mamuju.

Bu Syarif lalu memberikan petunjuknya, petunjuk penyiapan bumbu-bumbu untuk masakan siang itu. Waktu dua jam istirahat yang diberikan kantornya—salah satu kantor pemerintahan di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat—dimanfaatkan untuk menyiapkan makan siang buat keluarga, terutama Bapak Syarif yang kurang menyukai makanan selain masakan sang istri.

Siang itu, Ibu dibantu Tegar dan Ayu—putri terkecilnya yang cekatan. Aku yang semula berniat membantu berubah menjadi pengamat dan penanya yang cerewet tentang apa yang sedang mereka siapkan.

Titik alih itu dimulai saat Ibu meminta Ayu mengambil asam mangga dan merendamnya. Asam mangga? Apa pula itu? Ternyata itu adalah serutan atau potongan tipis memanjang buah mangga yang masih masam. Potongan mangga itu diberi garam lalu dijemur sampai kering. Kalau mau dipakai sebagai bumbu masak, asam mangga direndam terlebih dahulu dengan air. Rasanya lembut dan masam. Kata Ibu, asam mangga inilah yang digunakan di daerah itu untuk memberi rasa masam pada masakan. Di situ tidak lazim menggunakan buah asam seperti di Jawa. Menarik…..

Asam mangga yang air rendamannya sudah dibuang dicampur dengan ulekan cabai merah, merica, dan bawang putih serta irisan onclang dan bubuk kunyit. Tidak berhenti sampai disitu, minyak goreng dituangkan setengah merendam campuran bumbu tadi.

Setelah mengambil semacam panci bertelinga terbuat dari tanah liat, di atasnya Ibu menata beberapa ekor ikan tatombo yang sudah dibersihkan sebelumnya. Bumbu-bumbu tadi disebar di atas ikan-ikan tatombo yang sudah rapi terbaring. Air kemudian dituangkan merendam semuanya dan ditunggu sampai mendidih. Garam sebagai penguat rasa ditambahkan. Setelah ikan dirasa sudah matang dan bumbu telah merasukinya, makanan pun siap.

Ketika aku tanya nama masakan itu, jawab Ibu,”Ini namanya ikan pi api”. Tegar ikut menambahi kalau masakan ikan pi api ini pun bisa memakai ikan bolu (ternyata itu nama lainnya ikan bandeng). Masakan ikan pi api ini menurut Ibu adalah salah satu masakan orang Mandar. Tak heran karena Bapak adalah orang Mandar. Seminggu kemudian seorang teman di Majene bilang masakan ini bisa disebut “bau pe api” artinya ikan direbus.

Ups! Sudah mengisahkan proses pemasakan dan namanya, belum juga menggambarkan rasanya. Hmm…kuahnya segar. Rasa segar yang timbul karena masakan tanpa santan dan asam mangganya tadi. Rasa asam mangga yang menghasilkan kemasaman pencipta segar ini berbeda tingkatnya dengan kemasaman asam Jawa. Coba saja rasakan masakan yang terlalu banyak menggunakan asam Jawa, rasa masamnya bisa mencapai tingkat sangat masam dan meninggalkan rasa kecut di lidah dan tenggorokan. Ini berbeda, mungkin karena masam mangganya sudah diturunkan derajatnya saat pengeringan. Yang jelas…segar! Segarnya kuah juga dihiasi pedas cabai yang menambah kenikmatan.

Itu baru kuahnya. Daging ikan tatombo yang padat terasa gurih saat masuk ke mulut. Ikan segar langsung dari laut—sebelum terkena proses pendinginan—memang terasa lebih gurih. Apalagi, laut asal ikan-ikan inipun bisa dibilang lebih bebas polusi dibandingkan ikan-ikan tangkapan dari Laut Jawa yang menjadi muara banyak bahan pencemar.

Ikan yang enak dan kuah yang segar jelas tidak merusak definisi “nikmat”-nya makanan di perjalanan kuliner yang (diusahakan) selalu terselip dalam setiap perjalananku. Kali ini di Mamuju me-“nikmat”-i masakan Mandar.

Jumat, 14 November 2008

Kuliner Bandungan: Dari Tahu sampai Kelinci




















Salah satu weekend. Salah satu hotel. Salah satu kawasan berhawa dingin. Waktu dan tempat favorit kantor ngadain rapat kerja (huhuhuhu "kerja" + "weekend"=ga banget deh). Tapi, motivasi emang kudu dipompa sendiri. Jadi, raker akhir taun kali ini bermotivasi utama ketemu ma temen-temen, baik yang tugas di berbagai pelosok Jateng maupun temen-temen dari biro tetangga (hmm....Jateng+Jogja emang susah dipisah ya. asyiiik!).
Seharian mendengarkan doktrinasi-evaluasi, ngomongin agenda+ketawa ketiwi+ngemil. Udah cukup. Sorenya, kita (kelompok litbang) abis diskusi sendiri mutusin melanjutkan merapatkan perut di luar hotel. Otomatis....yang kudu dicari di Kawasan Bandungan adalah tahu serasi. Selain itu sebenernya ada yang khas ditemukan di kawasan dingin di Kabupaten Semarang ini, yaitu susu kedelai.
Ga perlu berjalan terlalu jauh dari hotel, kita masuk ke sebuah warung lesehan yang ada di pinggir jalan. Apa yang dipesan? Yo mesthi harus tahu serasi lah... Karena kita berombongan dan sebenernya (hanya) ingin "ngemil" jadi kita pesen makanan tanpa nasi. Ada tahu serasi goreng, tahu balado, dan sate kelinci (maapin aku ya sodara kelinci). Oya, trus karena ada menu khusus bertajuk "jus tahu" jadi kita coba pesen 1 sementara lainnya pesen minuman yang lebih bisa dibayangkan jaminan rasanya, yakni wedang jahe gula aren n teh panas.
Setelah menghabiskan satu plastik cukup besar keripik bayam, akhirnya makanan dan minuman diantar. Wedang jahe gula arennya pas di badan. Hangatnya minuman ga hanya terasa di mulut dan tenggorokan, tapi juga sampai di pencernaan dan tubuh. Pas banget buat ngadepin udara dingin. Kalau teh panasnya mah sensasinya biasa aja sih kek kalo kita minum di kantor hehehehe. Gimana dengan jus tahu? Tahu kok di-jus? Rasanya....bayangin sendiri deh kalo tahu ditambah air gula n es n sirup merah trus di-jus..rasanya ya "aneh" heuheueheuheu.
Sekarang ngomongin makanannya. Camilan datang disajikan di atas cobek tanah yang dilapisi daun. Hanya tahu gorengnya aja yang disajikan pakai piring biasa. Pertama, tahu goreng serasi. Tahu ini rasanya lebih lembut n kenyal dari tahu biasa. Cara makannya bisa dicocol di kecap atau sambil nggigit cabe rawit. Yang kedua, kita nyoba menu olahan tahu namanya tahu balado. Kalo buat aku sih menu ini paling mantap daripada yang lain. Tahu dibumbu n dioseng sama sambel. Jadi rasanya lebih tajam n tahunya lebih kerasa lembutnya. Apalagi pedesnya mantap, bo! Menu terakhir adalah sate kelinci. Emang sih sempet agak gimana gitu kebayang yang di-sate bukan ayam ato kambing tapi hewan imut yang bernama kelinci. Tapi ya gimana ya. Perjalanan kuliner sayang dilewatkan n dikalahkan ma peri kehewan-imutan kek gitu. Jadi ya, mari dilahap. Hap...satu tusuk sate (dagingnya aja ya) masuk ke mulut-perut...hehehehe...enak lho ;)
Jadilah semua hidangan di meja berpindah ke perut kami dalam waktu yang tidak terlalu lama. Acara ngemil yang menyenangkan yaa... Tapi, kudu diakhiri karena kami kudu balik ke hotel. Ada acara yang sudah menunggu...makan malam (heuheuheu...ga kenyang tuh perut?). N ternyata setelah rapat malamnya, pas yang lain lagi acara hiburan, aku - bim balik lagi ke warung yang tadi sore kita datengin berlima. Bedanya, kali ini ngajak wer. Bim sih ngulang pesen sate kelinci yang baginya sungguh enak. Aku nyoba menu tahu gejrot-nya (bener ga ya namanya?). Hehehehe...kita kan cuman pingin memastikan kalo menu2 di situ enak semua.

Senin, 21 Juli 2008

Tak Bosan Santap Nasi Megono Pekalongan





Tiga piring berisi masing-masing jenis makanan yang berbeda. Tapi, ketika ketiganya disatukan melalui sendok dan garpu di mulut, semua sensor rasa yang ada akan mengecap dan mendefinisikannya dalam satu kata utama...ENAK!


Searah jarum jam, di piring pertama ada tempe mendoan khas kota itu. Ukurannya termasuk besar, rasanya gurih dan krispi karena digoreng model keras.

Piring kedua nasi putih dan megono. Jenis makanan ini banyak ditemui di sepanjang pantura barat Jawa Tengah terutama Pekalongan dan Tegal. Megono terbuat dari nangka muda yang biasa disebut gori, dicacah halus kemudian dicampur dengan bumbu-bumbu (kata ibu mertua mbakku yang sempet bikinin megono pas kita datang ke rumahnya di pelosok Batang, pake bumbu gudangan) dan kelapa parut. Semuanya dikukus sampai matang. Rasanya gurih banget. Sudah enak kalo di makan ama nasi anget aja....

Piring ketiga, garang asem. Di sini garang asemnya pake daging berlemak (gajih-dlm bahasa Jawa) dipotong besar. Kuahnya bening dan segeeer bangeet. Keknya sih itemnya bukan karena kecap (kek garangasem Semarang bikinan Ibuku tersayang dulu). kalo ga salah pake kluwak kali yaa (nebak2 asal), soalnya itemnya ga kotor n ga menimbulkan rasa lain yang menonjol, masih menang rasa kecut segar dari asam-tomat-blimbing wuluh. Yang jelas....garang asemnya ngangenin...

Ketiganya bisa ditemukan di alun-alun Kota Pekalongan, tepatnya di sisi kiri alun-alun kalo posisi kita berdiri di depan Masjid Agung. Di pangkalan travel di Pekalongan. Namanya Warung Pak Masduki. Legendaris banget...

Seingatku aku udah pernah makan di situ tiga kali. Pertama kali ke situ di ajak temen baru pas makan sore sebelum aku naik bis ke Tegal. Temen dari salah satu LSM pecinta lingkungan di Kota Pekalongan itu adalah temen dari temen wartawan yang ngepos di Tegal. Kebetulan aku harus ambil data ke Pemkab Pekalongan, yang ternyata Kompleks Perkantoran Pemkabnya baru bikin di kawasan Kajen yang gila2an jauhnya dari pusat Kota Pekalongan. Jadi dengan baiknya temen baruku itu nunggu aku yang dateng dari Tegal ke pusat kota Pekalongan. Trus kita berdua boncengan ke Kajen yang berpuluh kilometer jauhnya. Pakai acara kehujanan segala. Nah, abis itu aku diajak ke basecamp mereka di salah satu sudut kota Pekalongan yang berbau idealisme. Karena sorenya kudu balik ke Tegal itu baru aku di anter ke pangkalan bis, tapi dengan temen yang lain lagi n sebelumnya dia ajak aku makan di situ..Makasih banget yaaa ;)

Yang kedua n ketiga sih baru 2 bulan terakhir ini sama temen-temen kantor Tim Saujana Pabrik Gula (ciyee....nama timnya keren juga nih). Bedanya, kali ini semunya dibayarin bos hahahahaha. Tapi teteeep, menu yang dipesan sama: Teh anget, nasi megono, garang asem, n tempe mendoan ;)

Nasi Megono Pekalongan memang oyeee ;)

Minggu, 06 April 2008

Mojok di Kupat Tahu “Pojok”

Kesekian kalinya aku mampir mengecap rasa yang ngangenin ini di warung tua itu. Sampai sekarang pun aku tak ingat tepatnya dimana seandainya aku disuruh menunjuk titik di peta Kota Magelang yang mewakili warung itu. Ingatanku soal lokasi emang rada payah (kalo malu dibilang sangat buruk).

Tapi ingatanku kuat soal susunan bangku dan meja di dalam warung bercat hijau itu. Soal letaknya yang ada di sebelah kiri jalan arah ke Semarang dari alun-alun kota. Warung kupat tahu kedua dari deretan di jalan itu. Dengan papan nama “Tahu Pojok”.

Menikmati sepiring kupat tahu di situ bagaikan merekonstruksi sebuah kenangan akan rasa. Mengembalikan sebuah ingatan akan rasa. Selama waktu tidak merasakannya di lidah, hanya ingatan akan rasa manis sekaligus segar yang nikmat yang terbangun. Saat kembali merasakannya di lidahlah ingatan akan semua itu mewujud. Luar biasa.

Sepiring...tidak lebih. Hanya sepiring untuk menikmati sebuah hidangan istimewa. Cara menghidangkannya pun tak biasa. Tidak butuh yang namanya cobek untuk setengah menghancurkan bumbu penyedapnya. Ritual itu langsung dilakukan di piring yang nantinya tersaji di hadapan penikmat.

“Kupat tahu setunggal. Pedes”. Begitu pesanan terlontar, dua pelayan otomatis bergerak. Seorang segera menggoreng tahu dan memotongnya seukuran dadu besar. Seorang lainnya mengiris sepenggal bawang putih dan beberapa buah cabai rawit di atas piring yang kemudian diulek dengan munthu dari kayu. Setelah siap, kupat diiris dan ditaruh di piring itu bersama tahu goreng. Irisan kol dan daun seledri, serta kecambah menghias di atasnya. Kuah semacam sambal kacang yang encer dituang ke piring. Bawang merah goreng yang tak boleh ketinggalan memberikan sentuhan terakhir.

Panas dari tahu goreng masih terasa saat kupat tahu di piring kita aduk. Harum. Tahu yang lembut dan gurih terasa nikmat saat dimakan bersama kuah yang juga gurih sekaligus manis. Sayur-sayuran yang ada memberikan rasa segar tersendiri. Sementara kupatnya—mewakili nasi—seperti menjadi syarat legalisasi bagi orang Indonesia untuk merasa sudah makan.

Banyak warung menjual kupat tahu. Pernah merasakan yang memakai telur dengan porsi yang penuh. Pernah merasakan yang memakai semacam gimbal dengan harga porsi yang mahal. Sama-sama mengklaim sebagai kupat tahu. Tapi, kupat Tahu Pojok memang beda. Rasa kuah sambal kacangnya tidak meninggalkan rasa eneg setelahnya. Sebaliknya, rasanya justru segar. Pelengkapnya yang “hanya” sayuran sederhana justru menjaga kenikmatan rasa keseluruhan tidak menjadi kabur.

Selain itu semua, makan di warung bercat hijau di salah satu ruas jalan di Kota Magelang itu menyisakan kenangan unik. Kenangan “masa muda”. Sekitar tujuh tahun yang lalu (kalo tak salah ingat tepatnya), langsung berangkat keesokan hari setelah sebelumnya Upik mengajakku naik motor berdua ke rumah kakeknya di Jogja. Dengan Kaze-E kesayanganku (yang waktu itu masih berusia balita), kami bergantian mengendarainya. Keluar pagi dari Semarang dan masuk lagi ke kota itu malamnya. Perjalanan seru yang kalo sekarang disuruh mengulang pasti berpikir berpuluh kali (he..he..he..). Dalam perjalanan ke Jogja itulah kami mampir ke “Tahu Pojok”. Itu pertama kalinya (seingatku) aku ke warung itu dan membawa oleh-oleh kenangan rasa. Setelah itu, setiap melewati Magelang pasti kenangan rasa itu selalu melintas.

Nikmat.....

Selasa, 25 Maret 2008

Wonosobo Food Fest....yummy!


Makan siang kali itu sangat mengesankan.
Sebuah perjalanan yang dipungkasi dengan sebuah prosesi yang tak terlupakan.
Kenikmatannya masih terasa di segenap panca indra hingga detik ini. Padahal, pengalaman itu terukir lebih dari sebulan yang lalu.
Setelah setengah hari yang padat dengan kunjungan menengok ratusan batu bersusun yang berusia ratusan kali lipat dari umur kami.
Setelah setengah hari dipeluk erat dengan dinginnya udara, tebalnya kabut, dan rintik gerimis yang terus menemani.
Setelah bangun dini hari dari dua jam waktu tersisa untuk meluruskan badan dan mengistirahatkan mata.

Makan siang di kota Wonosobo kali itu memang sangat mengesankan.
Apalagi kalau bukan menikmati makanan khas kota sejuk itu...MI ONGKLOK!
Dengan rekomendasi dari putra terbaik Wonosobo yang ada di kantor kami (hi..hi..hi..hidup Mr Meri!) bertujuh kami mencari yang namanya “Mi Ongklok Mbak Umi”.

Warung yang tidak begitu besar itu langsung penuh ketika kami masuk. Pesan? Mi ongklok tujuh dan dua porsi sate sapi dan tentu saja minuman.
Sembari menanti pesanan dibuat, ada pemandangan indah di depan mata. Yeah, ada beberapa nampan berisi camilan khas Wonosobo lainnya yang sayang dianggurkan. Ada geblek dan tempe kemul. Jadilah, belasan camilan itu segera berpindah ke perut-perut lapar kami. Rasanya? Tempe kemul-nya lebih gurih dan maknyus dibandingkan jenis yang sama yang saat sarapan disajikan pihak hotel. Geblek-nya? Enak juga sih...hanya kalah enak yang pernah aku makan ketika beli saat ada acara di Telaga Menjer yang ada di bawah Dieng. Geblek yang itu masih panas dan langsung dari penjual gendongannya. Muantaap rasanya ;)

Mi ongklok dan sate sapi hadir di meja.
Mangkok sedang besarnya itu penuh dengan campuran mi, kol, daun bawang, dan saus kental yang manis. Makanan sederhana yang unik. Kenikmatannya bertambah saat ulegan cabe dicampurkan ke mangkok. Rasa manis gurih dari saus kental tadi berpadu dengan gurihnya mi dan segarnya kol dan daun bawang. Belum lagi dengan lembutnya suwiran daging ayam dan sedapnya taburan bawang merah goreng ditambah sedikit pedas dari cabe uleg tadi. Lidah semakin menemukan jodohnya saat merasakan sate sapi yang benar-benar gurih karena dibakar dalam potongan kecil dan diracik dengan bumbu kacang. Tak perlu menunggu waktu berputar lama untuk melihat isi mangkok hilang dari pandangan.

Semua orang puas dengan sensasi nikmat ini. Satu mangkok mi ongklok yang nikmat cukup untuk membuat sebuah kenangan manis tentang Wonosobo. Untuk memperpanjang kenangan ini hampir semua anggota rombongan membungkus pulang geblek dan tempe kemul yang tersisa hingga habis.

Puas? Makan siang yang menyenangkan memang, tapi masih ada yang belum terlengkapi. Dini hari ketika kami masuk Wonosobo kami kehabisan wedang ronde-nya....bukan wedang ronde biasa, tapi di kota ini wedang ronde-nya plus emping. Wedang ronde kok pakai emping? he..he..jadi teringat kata-kata Mr Meri saat ke Wonosobo beberapa waktu sebelumnya, “Aku diketawain anak-anak produksi pas bilang kalau di Wonosobo wedang ronde-nya pakai emping”.

Selasa, 04 Desember 2007

Ngemil Bubur Campur




Menu yang ini serius (ga boong bener2) ketemunya ga disengaja ;)
Pas siang2 lagi pusing keluar dari salah satu toko kain legendaris di Kranggan....di tempat parkir kepentok ma tempat jualan dorong bubur ini. Ibu penjualnya dengan nada persuasif yang menggoda langsung menawariku. Sebenernya sih bukan masalah laper di perut, tapi masalah “mumpung”...mumpung ketemu yang jual barang langka ini kan he..he..sekalian bertujuan mulia demi nguri-uri kabudayan nagari (ciyee.....bubur tradisional gitu loh).
Setelah diliat2 ternyata komposisinya menarik juga....cantik lagi warnanya. Lihat lah yang sudah tercampur di atas piring...hmm, cantik bukan? (bukan!!)
Jadi, ada tujuh macem bubur yang ditawarkan. Semuanya berbahan tumbuhan asli Indonesia. Yang kotak-kotak kecil warna orange itu ubi jalar, rasanya manis. Terus yang merah itu pasti semua juga tau kalo itu sagu yang biji lho, rasanya...ya kek sagu itu ;p. Serong ke kiri (lihat gambar!) yang warnanya coklat muda itu bubur jewawut—keknya pakan burung ya?—rasanya gurih. Sekarang serong kanan ke bubur yang warnanya kuning cerah itu bubur kacang ijo (kok ga ijo? Ya kan kalo bungkus bijinya yang ijo itu diilangin ya tinggal biji putihnya kalee), rasanya? Enak. Kalo yang coklat satu lagi itu bubur candil, yang manis ada buletan2nya kecil2 itu lho. Yang item pastinya ketan item. Trus yang di pojokan putih itu bubur sumsum.
Ibu yang jualan itu ngeraciknya semua bubur itu diratain (maksudnya ga ditumpuk2) di atas piring, abis itu diguyur pake santan n dimanisin ma kinco (gula jawa diencerin—kalo di Solo keknya pada nyebut juruh ya).
Nah....pan menarik tuh ya. Perpaduan antara rasa dan tampilan. Cuma sayang, pas nanya ke Ibu penjualnya apa nama bubur itu (kirain ada nama tradisional yang eksotisnya)..eeh, si Ibu cuma bilang....”ya namanya Bubur Campur aja, mbak”. Teng...tong...;p