Tampilkan postingan dengan label klinong-klinong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klinong-klinong. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2009

Celebes: Menyusuri Sulawesi Bagian Barat


Bandara Sultan Hasanudin Makassar menjadi tempat pertama yang aku injak di Pulau Sulawesi.
Pulau yang semula hanya sebatas wujud dua dimensi peta dan foto ataunwujud tiga dimensi gambar-gambar liputan di televisi.
Bandara ini menjadi titik awal perjalananku di Sulawesi bagian barat.
Daerah-daerah di pinggir Selat Makassar dalam waktu hampir dua minggu ini harus aku susuri.
Banyak kisah yang terangkum.
Banyak tali silaturahim yang terajut.
Banyak pelajaran yang terengkuh.

Seru

Senin, 25 Agustus 2008

Bandung (2): Kilometer Nol




“ZORG, DAT ALS IK TERUG KOM HIER EEN STAD IS GEBOUWD”
(Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota)

Itulah ucapan seorang HW Daendels yang sangat terkenal sambil menancapkan tongkat kayunya di tanah. Perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa tahun 1808-1811 menjadi kenyataan dan sekarang kota yang dia inginkan masih berdiri dengan segala warnanya. Ya, Kota Bandung.

Kutipan lebih lengkapnya dapat dilihat di PRASASTI BANDOENG KM. “0” (NOL) yang melengkapi sebuah tugu yang menjadi penanda posisi KM. Bd. 0+00.
Tugu ini ada di trotoar depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat yang terletak di kawasan Asia-Afrika.

Sebuah episode yang menyenangkan saat kami menginjak tanah yang pada 1810 diinjak juga oleh seorang HW Daendels. Seorang tokoh lampau yang dengan ambisinya telah mendorong dan memaksa terbentangnya sebuah jalan raya dari Anyer ke Panarukan. Jalan yang terkenal sebagai jalan raya pos atau de groote postweg. Jalan yang pembuatannya memakan banyak korban jiwa rakyat negeri ini. Jalan yang hingga saat ini masih membentang dengan keangkuhan yang masih tersisa di tengah bopeng-bopeng di sekujurnya.

Berdiri di tempat ini sebenarnya bukanlah menjadi tujuanku ke Bandung. De yang ingin menunjukkannya. Jadilah sore itu, dengan tujuan utama survei lapangan untuk tugas pantauan pilkada keesokan harinya dan kebetulan Jalan Asia-Afrika masuk dalam wilayah pantauanku, kami ke sini.

Berfoto menjadi wajib kemudian. Dan ternyata bukan cuma kami yang melihat lokasi ini penting, ada sepasang remaja dan seorang bapak yang dengan serius berusaha mengambil gambar tugu dengan kamera handphone masing-masing sore itu.

“Kayaknya kita harus mengunjungi nol kilometer di tempat lain juga nih,” kata de tiba-tiba.
Seru juga sepertinya...jadilah KM 0 di kota-kota lain menjadi target kami berikutnya. Hmm...kapan ya bisa ke Sabang?

Minggu, 20 Januari 2008

Mari Membaca Buku Kehidupan


MUSEUM RANGGAWARSITO,
SAATNYA MEMBACA BUKU KEHIDUPAN
Begja-begjane kang lali,
Luwih begja kang eling lawan waspada
(Bagaimana pun bahagianya orang yang lupa diri,
lebih bahagia orang yang masih sadar dan waspada)
(Serat Kalatidha pupuh 7)
Nasihat pujangga besar Ranggawarsita terasa pas didengungkan kembali. Apalagi, napas kehidupan masyarakat saat ini dalam istilah Ranggawarsita disebut sebagai zaman edan. Bencana datang silih berganti. Kegilaan manusia makin menjadi.
Menjadi waspada memerlukan tongkat dan cermin. Cermin terbaik ada dalam sejarah, buku kehidupan. Museum Jawa Tengah Ranggawarsita menawarkan buku terbuka bagi siapa saja yang ingin membaca kisah sang kala.
Bagai membaca buku, pengunjung diajak berkeliling menelusuri sejarah dengan konsep yang kental dengan budaya Jawa. Ada tiga simbol pewayangan yang menandai perjalanan.
Begitu masuk, pengunjung disambut Gunungan Blumbangan yang menggambarkan kehidupan semesta yang fana dan diwarnai gejala yang saling bertolak belakang. Evolusi alam semesta menjadi bahan perenungan utama. Pergerakan matahari dan planet, serta rekonstruksi kehidupan hewan dan tumbuhan purba, hanyalah contoh kecil.
Gunungan Gapuran melambangkan evolusi manusia, baik fisik maupun psikis yang terpapar gamblang. Perkembangan peradaban yang dipengaruhi mata pencaharian, religi, hingga perebutan kekuasaan dapat dilihat.
Setelah menjelajahi sejarah yang dibeberkan dalam empat gedung, perjalanan diakhiri dengan penampilan sosok Dewaruci di ruangan terakhir. Tokoh pewayangan ini mencari tirta amerta, air kehidupan abadi. Ternyata, kehidupan abadi bukan karena panjang umurnya, melainkan apa yang diserap dari inti kehidupanlah yang menjadi sumber keabadian itu. Mata air ilmu yang ada di Museum Ranggawarsita menanti untuk ditimba.
Selama sepuluh tahun terakhir, pengunjung museum provinsi terbesar di Indonesia ini rata-rata 46.831 orang per tahun. Lebih dari separuhnya adalah siswa TK, SD, dan SMP.
Kepala Museum Jawa Tengah Ranggawarsita, Puji Joharnoto, mengungkapkan, saat ini prioritas utamanya menjadikan museum sebagai tempat belajar dan rekreasi. Joharnoto menyayangkan kurangnya minat masyarakat mengunjungi museum. "Negeri kita masih lekat dengan kultur yang dekat dengan nenek moyang, sehingga memandang museum sebagai hal yang biasa," tuturnya.
Hambatan kultural menantang pihak museum untuk melakukan berbagai inovasi. Apalagi, sejak otonomi daerah, museum berada di bawah pemerintah provinsi. Keleluasaan yang lebih terasa, diiringi tuntutan menyumbang pendapatan asli daerah. Setiap tahun, target pendapatan-dari biaya sewa gedung, tiket masuk, dan karcis parkir sekitar Rp 70 juta dan selama ini selalu terpenuhi.
Bangunan seluas 8.438 meter persegi yang berdiri di atas 2,1 hektar lahan ini menyimpan lebih dari 40.000 koleksi. Namun, hanya sekitar 8.000 koleksi yang dipamerkan. Sisanya dalam perbaikan atau penyimpanan. Buku sejarah yang penuh dengan ilmu itu masih menanti pembacanya. Sayang jika dibiarkan sendirian, lengang, dan usang.
(dimuat di Kompas Edisi Jawa Tengah, 21 Oktober 2005)

Stasiun Tawang yang Luar Biasa



MENAPAK SEJARAH KERETA API
DI STASIUN SEMARANG TAWANG

Sebuah bangunan megah berdiri terpisah dari bangunan lain di sebelah utara Kawasan Kota Lama Semarang. Bentuknya mirip bangunan dengan fungsi sejenis, sebagai tujuan dan transit kereta api. Bangunan induk diapit bangunan memanjang di kanan kirinya. Bangunan induknya berbeda, ciri khas bangunan yang dibuat semasa pemerintahan Hindia Belanda.

Stasiun Semarang Tawang namanya. Tinggi bangunan dengan pilar dan tembok kokoh membentuk kemegahan. Bagian puncak atap yang berbentuk kubah menunjukkan gaya arsitektur masa itu. Bentuk lengkung dan persegi mendominasi ornamen bangunan. Kanopi di depan pintu masuk menambah kesan eksklusif stasiun ini.

"Isi surat dari direksi NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg) di Belanda pada direksi NIS di Indonesia, mengharapkan pembangunan stasiun yang fungsional. Untuk bangunan stasiun, tidak boleh jelek, namun tidak harus megah," tutur Cahyono, pencinta kereta api Indonesia, Kamis (8/12).

Pada 29 April 1911, NIS mulai mewujudkan hasil rancangan Sloth-Blauwboer ini. Tiga tahun kemudian, stasiun itu siap beroperasi. Bersama Stasiun Semarang West (Poncol) dan Stasiun Central (Jurnatan), Stasiun Tawang dipersiapkan untuk menyambut koloniale tentoon stelling.
Stasiun Tawang menjadi pintu kedatangan tamu. Tidak mengherankan jika lobinya menunjukkan keanggunan. Warna putih menutup hampir semua tembok bagian dalam. Warna coklat tembaga menjadi penghiasnya, baik ornamen bangunan maupun hiasan lainnya. Pahatan batu yang melukiskan dua loko dan rangkaian kereta api menghiasi keempat sisi tembok. Sementara pusat ruangan yang segaris dengan atap kubah diterangi empat lampu hias dengan warna senada. Jendela kaca memanjang di sekeliling bangunan bagian atas, termasuk di bawah kubah, menambah penerangan.

Menurut Kepala Stasiun Tawang, Purwanto, bentuk bangunan utama saat ini tak banyak berubah, meski ada penambahan dan renovasi, termasuk peninggian lantai. Dua kali peninggian dilakukan pada tahun 1990-an. Pasalnya, limpasan air laut (rob) yang mengancam wilayah utara Kota Semarang mulai masuk ke kawasan stasiun. Hampir 1,5 meter tinggi bangunan berkurang karena pengurukan. Akibatnya, sejumlah bagian terpaksa disesuaikan, misalnya, pengurangan tinggi pintu.

Bangunan stasiun itu masih terawat baik. Fungsi bangunan masih dijaga sebagai stasiun kereta api. Apalagi, volume penumpang per tahun di stasiun ini mencapai lebih dari 600.000 orang. Namun, hanya sedikit yang menyadari stasiun yang ditapaki adalah bangunan bersejarah.
(dimuat di Kompas Edisi Jawa Tengah, 9 Desember 2005)

NB: Disertai ralat untuk nama salah satu narasumber saya. Tertulis "Cahyono" yang benar adalah "Tjahjono Rahardjo". Maap ya, Pak Cahyono...eh Tjahjono ;)

Minggu, 06 Januari 2008

Prosesi Alam






MENIKMATI MATAHARI TERBIT DARI LEMBAH DIENG

Semburat merah mewarnai langit yang tengah mengganti selimut malamnya dengan jubah siang. Merah tidak bertahan sekadar semburat, tetapi membentuk garis di cakrawala timur. Pelan dan pasti sang surya hadir dengan anggun.

Titik putih mulai tampak di tengah horison. Menit berlalu menaikkannya menjauhi garis pandang awal. Semakin tinggi dan besar, titik putih dikelilingi sinar kuning kemerahan menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Hingga kemudian wujud utuh matahari terlukis di angkasa pagi, terang dan berkilau.

Matahari terbit memang dapat dilihat dari berbagai tempat. Namun, tidak banyak yang menyediakan pandangan bebas untuk menikmati keindahan prosesi itu. Salah satunya adalah Gardu Pandang Tieng yang terletak di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Gardu tersebut termasuk obyek dalam Kawasan Wisata Lembah Dieng, Kabupaten Wonosobo.

Dari gardu yang berdiri di Pegunungan Dieng ini, setelah matahari naik, pengunjung akan dapat melihat hamparan lahan pertanian yang tersusun rapi di lembah pegunungan. Permukiman penduduk dengan keteraturan yang menarik juga terpampang di bawah. Selain itu, kemegahan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro di kejauhan tak kalah memesona.

"Kami sering ke sini untuk memotret matahari karena lansekapnya bagus," kata Handoko (50), yang pagi akhir Juli lalu itu datang bersama teman-temannya sesama anggota Perhimpunan Foto Amatir Magelang.

Ani (29) yang sudah beberapa tahun menjadi pemandu wisata di Kawasan Dieng juga mengakui, Gardu Pandang Tieng termasuk obyek favorit wisatawan mancanegara (wisman). "Dalam satu minggu saya bisa mengantarkan wisman ke tempat ini empat sampai lima kali, terutama saat musim kemarau. Paling sering adalah wisman dari Eropa," katanya.

Potensi gardu pandang untuk semakin menarik wisatawan ke Kawasan Dieng cukup besar. Sayangnya, belum ada fasilitas pendukung lain yang tersedia di lokasi. Saat ini, obyek tersebut hanya berupa bangunan panggung tempat pengunjung menikmati pemandangan dan lahan parkir.

Jadi, masih terkesan tempat perhentian selagi lewat menuju obyek wisata lainnya dan belum menjadi tujuan utama. Selain Gardu Pandang Tieng, terdapat sejumlah obyek wisata lain di Kawasan Dieng ini, baik yang terletak di lembah maupun di dataran tingginya. Di lembah Dieng ada Taman Rekreasi Kalianget, Agrowisata Tambi, Telaga Menjer, dan Air Terjun Sikarim. Sementara itu, kawasan dataran tinggi menawarkan Tuk Watukelir, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Kompleks Goa Semar, Dieng Plateau Theater, dan Kompleks Candi. (dimuat di Kompas Jawa Tengah, 12 Agustus 2006)

Kemegahan Masa Lalu




JEJAK BELANDA DI BENTENG VAN DER WIJCK
Serombongan anak kecil berseragam olahraga biru berdesakan di pintu keluar Benteng Van Der Wijck, Sabtu (17/6). Bersama guru dan orangtuanya, rombongan anak TK Kusuma Indah, Aliyan, Kebumen, itu baru saja menikmati obyek wisata peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda ini.
"Kami ke sini acara perpisahan TK kelas besar. Anak-anak senang di sini karena banyak mainan selain melihat bentengnya," kata Martiyem (40), yang saat itu menemani anak perempuannya.
Sejak dibuka untuk umum akhir 2000, daya tarik benteng di Gombong, Kebumen, ini makin kuat. Sebelumnya, kompleks Benteng Van Der Wijck ditempati anggota TNI AD yang bertugas di Sekolah Calon Tamtama (Secata) A.
Ternyata suasana di dalam tidak jauh berbeda. Banyak anak kecil berkeliaran yang asyik dengan permainan. Ada yang menaiki kereta mini, bermain ayunan, atau sekadar duduk bersama teman dan orangtuanya. Ini terlihat di sepanjang jalan menuju bangunan benteng yang sekarang dilengkapi dengan berbagai permainan anak.
Namun, menurut Ny Joko yang menemani anaknya, Dinda (4,2), bersama rombongan Playgroup Aisyiah, Purbalingga, di lain sisi banyaknya permainan membuat pengunjung kurang fokus pada keberadaan benteng. Padahal benteng berusia 188 tahun itu penuh nilai sejarah. Lain halnya dengan Murdiyanto (43), pengajar SDN 3 Wirun, Kutoarjo, Purworejo, yang memilih obyek wisata ini bagi anak didiknya. Selain memperkenalkan sejarah bangsa, tempat tersebut juga mengenalkan jenis permainan yang bagi siswanya termasuk baru. Memang, keberadaan Benteng Van Der Wijck tetap harus menjadi fokus kunjungan. Pasalnya, nilai sejarah yang dimilikinya merupakan bahan pelajaran yang penting bagi semua anak bangsa.
Dari kejauhan, benteng berwarna merah bata ini tampak kokoh. Seluruh temboknya berbahan batu bata dengan tinggi 10 meter. Tebal dindingnya 1,4 meter, sementara tebal atap mencapai 2,6 meter yang dapat dilihat dengan menaiki kereta yang berkeliling di atas atap.
Menurut sejarah, benteng berlantai dua ini mulai digunakan semasa Perang Diponegoro dan menjadi benteng pertahanan terdepan di wilayah Kedu Selatan. Pada masa pendudukan Jepang, kompleks ini menjadi tempat latihan anggota PETA. Selain itu, juga pernah dijadikan Markas BKR.
Pengelola akan mengoptimalkan fungsi ruangan, misalnya pembuatan teater yang akan menayangkan film perjuangan dan perpustakaan. Pengunjung juga bisa berfoto di studio. Ini diharapkan mampu menarik pengunjung yang pada masa liburan bisa mencapai 10.000 pengunjung per minggu. (dimuat di Kompas Jawa Tengah, 24 Juni 2006-tidak termasuk foto-foto)

Minggu, 16 Desember 2007

Terdampar di dunia lain





SENSASI KARIMUNJAWA


Saat kapal merapat di dermaga Pulau Karimunjawa, petualangan pun dimulai. Dari pulau terbesar gugusan Kepulauan Karimunjawa ini, berbagai aktivitas menarik dapat melonggarkan kepenatan. Banyak hal baru yang patut dimasukkan kenangan selama berakhir pekan di sana.

Berbagai potret keindahan alam dan keunikan kehidupan masyarakatnya patut diabadikan. Dengan menumpang Kapal Motor Cepat Kartini yang berlayar pagi hari dari Pelabuhan Tanjung Mas, Kota Semarang, empat jam kemudian sampailah di Pulau Karimunjawa.

Setelah melepas lelah dan menyegarkan diri di penginapan yang terpusat di tengah kota, pengunjung dapat segera memulai penjelajahannya. Suasana sore di dermaga menjadi pilihan menarik.

Keramahan penduduk membuat pengunjung tidak perlu segan bergabung. Bahkan meminjam kail untuk memancing sekalipun tampak begitu mudah. Ketika malam tiba, saatnya mengistirahatkan badan. Yang masih ingin beraktivitas dapat mengisi waktu dengan memancing di laut dalam suasana ketenangan malam hari.

Suasana pagi tidak kalah menarik untuk dinikmati. Sambil berolahraga dan menghirup kesegaran udara tanpa polusi, pengunjung dapat berjalan ke arah pasar krempyeng yang menggeliat pukul 05.00 hingga 08.00.

Di tengah hiruk pikuk pasar, wisatawan dapat menemukan sejumlah dagangan khas yang mungkin sudah jarang dinikmati di kota, misalnya aneka jajan pasar. Di tepi pasar, sebaris pedagang menggelar cenderamata khas Karimunjawa dengan harga terjangkau. Ikan laut yang diasinkan, rumput laut kering, dan berbagai kerajinan dari kayu dan kulit penyu memenuhi dasaran. Bagi yang menyukai tanaman, berbagai koleksi bonsai tanaman setigi, kalimasada, dan dewadaru pasti tak kalah menariknya untuk dikoleksi.

Setelah matahari mulai tinggi, petualangan dilanjutkan ke luar Pulau Karimunjawa. Dengan menyewa kapal kaca, wisatawan dapat menikmati wisata bahari. "Luar biasa!" seru Yurman (30), wisatawan asal Semarang, setelah snorkling di perairan dekat Pulau Menjangan Kecil, Minggu (2/4). Dia mengaku apa yang dilihat saat itu melebihi bayangannya selama ini. Melihat penangkaran ikan hiu dan menjelajahi pulau-pulau kecil lainnya membuat waktu cepat berlalu. Di dermaga Pulau Karimunjawa, kenangan akhir pekan yang mengesankan terpaksa diakhiri. (Kompas Jawa Tengah, 8 April 2006, tidak termasuk foto-foto)

Keterangan Foto (searah jarum jam):
1. KMC Kartini I Rute Semarang-Karimunjawa-Suasana Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, pagi hari sebelum keberangkatan.
2. KMP Muria Rute Jepara-Karimunjawa-Suasana bongkar muat kapal yang semuanya ada di sini. Dari orang sampai sayur-mayur, dari sepeda sampai truk, dari beras sampai makanan kecil.
3. Dermaga kapal nelayan-Lepas dini hari di dermaga khusus kapal nelayan di bagian lain dari Pulau Karimunjawa.
4. Secuil Pulau Menjangan Kecil (atau Besar ya? lupa)
5. Penangkaran ikan hiu di salah satu pulau (lupa juga he..he..)

Minggu, 09 Desember 2007

Menghujat Para Pemerkosa Sejarah






Udara sejuk menyambut di ketinggian antara 1.200-1.300 mdpl. Matahari belum menempuh setengah dari perjalanannya hari itu. Kenyamanan suasana yang menemani niat serombongan orang untuk sekadar menikmati peninggalan masa lalu yang luar biasa.
Di dekat pintu masuk terdapat papan keterangan yang memuat sejarah candi yang tersebar dengan anggun di sisi lereng Gunung Ungaran tersebut. Namanya, Gedong Songo. Artinya, sembilan bangunan—meski yang masih utuh tinggal lima candi. Pada awalnya, kompleks candi ini disebut Gedong Pitoe (=bangunan tujuh) karena sejumlah itulah saat pertama ditemukan Raffles.
Lima candi berbahan batu andesit yang masih utuh pernah dipugar secara bertahap. Candi Gedong I dan II dipugar tahun 1928-1929 dan 1930-1931 sementara Gedong III, IV, dan V pada 1977-1983. Candi-candi Hindu itu diperkirakan dibangun pada masa antara abad VII – IX Masehi atau semasa dengan kompleks Candi Dieng.
Ciri candi Hindu ditemukan di kompleks ini, yaitu arca atau relief pada relung candi seperti arca Ciwa Mahadewa, Ciwa Mahaguru, Ganeca, Durga Mahisasuramardhini, Nandiswara dan Mahakala serta Yoni pada bilik candi. Keistimewaan Gedong Songo yaitu terdapat arca Gajah dalam posisi jongkok di kaki candi Gedong III, dan Yoni berbentuk persegi panjang pada bilik candi Gedong I.
Sesuai namanya, candi Gedong I terletak paling dekat dengan pintu masuk dibandingkan candi-candi yang lain. Candi yang anggun dengan segala simbolisasi penuh arti mengenai hubungan antara manusia, alam, dewa, dan yang tak terhingga.
Tunggu! Ternyata tak hanya simbolisasi masa lampau yang terpatri di bebatuan yang menyusun indah candi ini. “M HUDI” dan “SIDIK” hanyalah salah dua dari banyak kata yang tergores dalam secara permanen melukai batuan candi. Tidak hanya benda tajam yang menggoresi batu-batu uzur itu. Spidol. Ya, spidol yang merupakan alat tulis dari masa beratus-ratus tahun setelah bebatuan itu disusun ikut mencemarinya. Kali ini tulisannya agak kurang jelas terbaca karena si penulis menulis dengan gaya sok indah yang jelas-jelas terlihat jelek di batu itu. Sederet nama PENJAHAT SEJARAH: “MaTuT, Yudhi, Andry, Q-think”. Mau tahu yang lebih konyol? Tulisan spidol biru ini: “Barang siapa mencoret-coret dinding ini diancam hukuman 5 th penjara. TTD ”.
Vandalisme! Pemerkosaan terhadap sejarah! Si Fulan yang Bodoh! Marah? Ya! Hanya orang bodoh yang tidak mau menghargai apapun di luar dirinya. Mungkin itu kenapa bangsa ini sulit maju. Mental sebagian anaknya yang tidak mampu menghargai sejarah dan apa yang telah ditinggalkan leluhurnya.
Parahnya, aksi vandalis ini tidak hanya ditemukan di satu candi ini. Di manapun kita berjalan silakan lihat dengan seksama, maka akan ditemukan peninggalan pelaku kriminal ini. Ups! Ataukah sebenarnya mereka adalah anak bangsa dengan visi jauh ke depan, yang ingin mencatatkan dirinya (=namanya?) dalam sejarah. Dengan menorehkan sesuatu di batu candi, dinding gua, batang pohon, tembok bangunan, maka orang lain akan membacanya. Dan, mungkin orang yang hidup di masa beratus tahun setelah aksi penorehan sejarah itu dilakukan pun akan membacanya atau bahkan memelajarinya sebagai situs sejarah. Hmmm.....

Senin, 05 November 2007

fall in love with batik

Galeri Batik Kuno, Membaca Perubahan Zaman

Irisan daun pandan dan daun jeruk purut, parutan kencur dan laos, ditata bersama beberapa kuntum bunga mawar, kantil, melati, dan kenanga dalam sebuah mangkuk. Racikan yang disebut bunga ramping itu diletakkan di sudut-sudut ruang pamer.

Racikan bunga ramping berfungsi sebagai pengharum ruangan yang suhunya juga diatur. Selain itu, biji-biji merica yang dibungkus rapi juga diletakkan di beberapa tempat.

Merica berfungsi untuk menjauhkan kain dari serangga. Memang, ramuan tradisional yang menggunakan bahan-bahan alami menjadi pilihan. Pasalnya, ruang pamer di Galeri Batik Kuno Danar Hadi berisi sekitar 700 koleksi kain kuno.

Ratusan batik yang usianya sudah puluhan tahun-bahkan ada yang hampir satu abad-itu butuh perawatan khusus. Untuk menjaga keawetannya, pengelola menghindari penggunaan bahan-bahan kimia.

Kelestarian koleksi adalah mutlak, mengingat nilai historis dan edukatifnya. Berbagai jenis batik dipajang sesuai perkembangan zaman dan lingkungan. Bahkan, perubahan angin politik dan penguasa juga terbaca melalui karya adiluhung ini.

Tahun 1840-1910, berkembang batik Indo-Belanda yang dibuat oleh wanita-wanita peranakan Belanda. Meski pekerjanya orang pribumi yang berasal dari sekitar Pekalongan, namun pola dan warnanya kental dengan pengaruh Belanda-Eropa. Cerita terkenal seperti Putri Salju dan Si Topi Merah ikut mewarnai tema batik.

Kemudian saat pendudukan Jepang, Batik Djawa Hokokai menjadi wujud pengaruh budaya Jepang atas wilayah Jawa. Bunga sakura, misalnya, menghiasi pola kain dipadukan dengan pola tradisional seperti parang, lereng, dan kawung. Batik pada masa itu menunjukkan langkanya kain mori akibat Perang Dunia II dengan munculnya kain pagi sore (satu kain dengan dua pola).

Batik juga menunjukkan identitas pemakainya, dari status sosial hingga tempat tinggal. Batik keraton mengacu pada pola dan warna kain yang dipakai khusus bagi kalangan keraton. Misalnya, pola larangan, seperti parang dan semen yang menggunakan sawat ageng. Jadi, pengguna pola larangan menunjukkan identitasnya sebagai anggota keluarga keraton. Sebaliknya, rakyat biasa, terutama petani, terlihat memakai batik dengan ragam hias yang sesuai dengan alam sekitar, seperti bunga, burung, dan kupu-kupu dengan tetap memakai latar belakang pola batik keraton.

Menurut Kurator Galeri Batik Kuno Danar Hadi, TT Soerjanto, batik yang lebih banyak berkembang saat ini adalah jenis batik Indonesia. Batik ini hasil usaha Presiden Soekarno menyatukan jurang pemisah antara kalangan keraton dan rakyat biasa. KPT Hardjonagoro, yang ditunjuk Bung Karno, menciptakan motif baru yang memadukan pola keraton yang khas dengan warna-warna cerah dari pesisiran.

Memang, batik bagaikan buku harian yang ditulis oleh tangan-tangan terampil perempuan Indonesia. Guratan rumit berpadu proses pembuatan yang panjang menjadi saksinya. Perubahan zaman dan lingkungan terekam di hamparan kain. Ratusan di antaranya dapat dibaca di galeri batik yang selama ini dikunjungi berbagai kalangan, baik domestik maupun mancanegara. (Kompas Jawa Tengah, 24 Februari 2007, Hal H)

Note:
salah satunya karena bikin tulisan jalan-jalan ini jadi mulai lebih memperhatikan n menghargai yang namanya karya batik...lebih dari biasanya yang sekedar menikmati eksotisme corak dan warnanya. Budaya Indonesia memang luar biasa ;P. mari-mari kita semua lebih merhatiin budaya kita biar ga diklaim seenaknya ma bangsa lain....;D