Tampilkan postingan dengan label ngasal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngasal. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2009

Catatan Urbaner

Sekarang aku bisa disebut kaum urban bagi Jakarta.

Mau nggak mau demi tuntutan pekerjaan. Maklum, namanya masih buruh ya tidak ada kata “tidak” untuk perintah pabrik.

Adaptasi menjadi agenda utama. Banyak sekali yang harus diadaptasi tanpa harus merasa terkaget-kaget dengan kondisi di tempat baru. Rasakan ini sebagai sesuatu yang memang ‘harus’ dirasakan.

Mari kita daftar hal-hal yang berbeda antara kondisi dan kebiasaan sewaktu masih di Semarang—ibukota Provinsi Jawa Tengah—dengan ketika di Jakarta—ibukota Republik Indonesia.

Semarang >< Jakarta
1. Bangun siang, tidur larut >< Bangun pagi, tidur tidak selarut sebelumnya.
2. Berangkat agak siang, pulang malam banget >< Berangkat pagi, pulang lebih sore.
3. Waktu kerja tak teratur >< Waktu kerja lebih teratur.
4. Pulang kantor jalanan sepi >< Pulang kantor jalanan penuh.
5. Kantor bagaikan rumah >< Kantor ya kantor, rumah ya rumah.
6. Menonton tivi sambil bekerja di kantor >< Menonton tivi lebih banyak di rumah.
7. Amat sangat jarang nonton sinetron >< Mulai sering nonton sinetron (please…wake up!! Maap lagi euforia).
8. Libur sama dengan tidur >< Libur sama dengan “kemana ya kita?”.
9. Nunggang motor all the time >< Nebeng angkot mostly.
10. Jarang jalan kaki >< Banyak jalan kaki.
11. Berangkat mepet-mepet waktu >< Berangkat berlama-lama sebelumnya.
12. Makan tanpa mikir tempat >< Makan mikir ‘tempat-bahan baku-pengolahan-harga”.
13. Aman di kota sendiri >< Waspada sama orang-orang dan tempat-tempat.
14. Tenang tanpa prasangka >< Lebih banyak berprasangka buruk.
15. Jarang telpon sodara >< Lebih sering kontak-kontakan dengan sodara (maklum…jauh).
16. Sangat sering telpon suami >< Lebih jarang telpon suami (ya iyalah…namanya juga udah serumah).

Jakarta memang mesin. Bergerak cepat dan ‘memaksa’ semua yang terikat dengannya juga ikut bergerak cepat. Dalam dunia ‘serba bergegas’ ini sangat berharga untuk memiliki tempat privasi yang nyaman ditemani orang yang juga membuat kita nyaman. Agar, dalam ‘gerak yang padat’ ini kita tetap bisa merasakan nikmatnya ‘melambat’.
Menyeimbangkan timbangan keseharian.

Jumat, 23 Januari 2009

Reses

Hmm...udah sebulan ga sempet ngisi ni kamar.
Lagi sok sibuk berat...
Masa transisi yang lumayan hectic.
Isi rumah Semarang udah masuk rumah Jakarta.
Udah sempet rapiin sih, cuman belum siap kalo mo ditinggali lama.
Ni lagi di ketinggian bermeter-meter di atas permukaan tanah.
Di lantai 9 santika, di sebelah kiri ada jendela dengan harbour view-Pelabuhan Makassar.
Udah siang di sini.
Hmm...banyak hal yang harus dikerjakan.
Hoaaaaaah!!!!!

Selasa, 11 November 2008

Klangenan


Kotak berukuran 1 cm x 1,25 cm itu sudah bertahun-tahun tidak aku sentuh. Percuma saja menyentuhnya karena kotak kecil berwarna kuning itu sudah tidak berfungsi sekian lama.
Tapi, pagi itu lain. Aku tahu bakal ada hal berbeda yang terjadi. Sesuatu yang selama ini hanya sebatas harapan bercampur kecewa yang muncul saat letih dan jengkel memuncak akibat kegagalan.
Pagi itu, jariku menyentuhnya dan menekannya pelan. ”Jreeeeeeng......”, suara mesin terpicu keluar. Suara yang ternyata sudah lama tersimpan di pojokan memoriku. Tak heran kalau ada rasa yang berbeda saat mendengarnya. Rasanya ingin teriak, ”Hoooi...double starter motorku hidup lagi!!!!”.
Sepeda motor kesayanganku itu keluaran tahun 1998. Jadi, sudah 10 tahun menemaniku. Mereknya Kawasaki tipe Kaze bersilinder 110. Warnanya yang hitam membuatnya tambah ganteng. Stripping-nya yang bernuansa hijau pernah sempat pingin aku hilangkan, maksudnya biar hitam polos tapi kala itu dilarang mami. Entah apa alasannya, yang jelas sampai sekarang masih menempel manis.
Baru beberapa hari yang lalu si Kaze—begitu aku memanggilnya—masuk bengkel untuk dipoles. Seharian dia di sana. Hasilnya, selain double starter yang bisa kembali hidup, si Kaze dapat suara klakson baru yang lebih garang dari sebelumnya. Hehehe..sebelumnya hanya bersuara ”tiiiit”. Kedua mata-nya pun dapat lampu-lampu baru, tapi sayang perlu diganti lagi ke yang lebih terang. Yang seru, lampu sein kanan-kiri sekarang bisa berkedip dengan genit lagi setelah bertahun-tahun hanya melotot kalau mau belok. Akar semuanya ya aki baru hihihihihi.....
Pelek ban belakang termasuk ruji-nya juga baru. Ini memang harus diganti karena peleknya sobek di beberapa bagian karena karat yang beberapa kali ikut menyobek ban dalam. Kampas rem belakang juga ikut diganti termasuk kampas rem depan—untung perminyakan rem cakramnya nggak ikutan error. Selama ini rem depan-belakang memang tidak bisa aku andalkan, terpaksa main gigi juga.
Sebenarnya baru setahun terakhir si Kaze sedikit demi sedikit aku poles. Awal tahun, karena polisi di sini semakin galak kalau melihat spion yang nggak lengkap, jadi aku lengkapi spion kirinya. Dan karena thothok kepala rusak akibat jatuh bangun beberapa tahun sebelumnya dan membuat pemasangan spion kiri susah dilakukan, maka bagian itu pun diganti baru. Jadi mulus kepalanya meski aku harus kehilangan stiker kesayangan yang menempel di situ.
Si Kaze memang sudah lama sekali dalam kondisi babak belur. Teringat hari pertama aku pakai sepuluh tahun yang lalu. Pagi hari berangkat sekolah. Kelas tiga SMA saat itu. Dengan asyiknya melaju. Tapi, karena belum terbiasa dan luwes pagi itu aku jatuh glangsuran di aspal yang berair setelah hujan. Rok abu-abuku basah dan masih basah waktu mengerjakan soal ulangan beberapa menit setelahnya.
Tidak hanya itu, beberapa jatuh bangun terjadi pada tahun-tahun pertama itu. Yang paling parah seingatku—semoga tidak pernah lagi—di Jalan Kaligawe depan Terminal Terboyo. Aku memacunya setelah lampu lalu lintas berwarna hijau. Tiba-tiba ada perempuan menyeberang dan aku mencoba menghindar, tapi motor di belakangku terasa menyundul si Kaze. Sepersekian detik aku tahu bakal jatuh. Waktu jatuh pun aku masih bisa melihat aspal hanya berjarak beberapa senti di depan mukaku. Luka di kaki dan wajah. Alhamdulillah. Si Kaze yang baru berusia sekitar setahun babak belur lagi. Hehehehe...maaf ya.
Baru sekarang aku benar-benar berniat mengembalikan fungsinya. Sempat beberapa kali terpikir menjual si Kaze, tapi alasan sentimentil menggelayut. Selain itu, ketangguhan mesinnya masih diakui banyak orang. So, di sinilah kami. Masih saling menemani. Jadi teringat sepeda ganteng yang aku miliki semasa SD. Sepeda keren dengan gir susun yang bisa membuat rantai berpindah-pindah sesuai kecepatan yang kita inginkan. Mirip dengan si Kaze, sepeda itu pun relatif berat dan enak untuk ngebut. I love to ride ’n feel the wind.....with 'd Kaze (hehehe).

Senin, 29 September 2008

LiBuRAN LeBaRAN

Pertanyaannya:

Menurut Anda, kapan waktu liburan yang paling Anda sukai?
1. Liburan saat orang lain pada sibuk dengan rutinitasnya
2. Liburan bareng orang lain yang juga lagi pada libur semua
77. Tidak tahu
88. Tidak jawab

Jawaban:
Biasanya aku milih yang no 1, karena biasanya dapatnya juga kek gitu n emang lebih ngerasa bebas dalam liburnya kala yang lain lagi berpusing dengan rutinitas.
Tapi, kalo yang lain udah menikmati libur LEBARAN sementara aku masih ngurusin gawean n ngelakuin rutinitas ma temen2 di kantor.....kok jadi pingin no 2 ya ;(

Heuheuheuheu....idup LiBuRAN...eh, LeBaRAN ding!

Numpang:
Minta maap lair-batin sedalam-dalamnya n seluas-luasnya pada teman2 tersayang ;)

Rabu, 27 Agustus 2008

penuh eui..

21.24
rasanya kepala ini kok penuh banget ya
udah pingin cabs dari depan kompi n mluncur pulang

21.39
lumayan abis di ajak ngobrol ma temen soal hal lain di luar kerjaan. pulang ah

21.40
datanya jadinya juga kliatan penuh di space-nya. mbuhlah, kan tadi aku udah kasih alternatif pelonggarnya

21.41
pulang beneran ah

Senin, 25 Agustus 2008

Bandung (3): Namaku cowok banget ya?


Namanya kalo orang denger sesuatu berkali-kali lama-lama juga bakalan kebal.
Emang sih pada akhirnya aku kebal, cuman tetep aja tanya itu ada. Emang namaku itu punya cowok doang?
Tapi keknya emang gitu sih ya (hmm...pasrah). Soalnya itulah respon n referensi awal orang asing soal namaku.

Paling seringnya di nota atau kuitansi. Beberapa kali ditulis ma yang bikin tu bukti pembayaran namaku dengan atribut “BP” atau “BPK” (=bapak) atau juga “MR” (=mister=panggilan bapak juga dalam bahasa inggris, tau kan?).

Hal itu terulang lagi pas mo perjalanan dari Bandung ke Tasikmalaya. Sehari sebelumnya aku pesen satu kursi di travel lewat telepon. Aku lupa apa aku nyebutin pemesanan atas nama empat huruf pertama namaku ato namaku secara utuh. Soalnya “kecelakaan salah nyebut” ini paling sering kalo aku nyebut empat huruf pertama namaku (s, u, g, dan i). Kalo nama utuhku kan huruf paling belakangnya ada huruf “i” yang biasanya untuk mengidentifikasikan jenis kelamin pemilik nama. Misalnya, untuk nama “Susanto” orang pasti langsung dengan pede-nya menyebut jenis kelamin sang pemilik nama seorang lelaki. Sisi lain, kalo namanya “Susanti” mengacunya ke jenis kelamin perempuan. Jadi kalo merujuk dari “kebiasaan” n “budaya” ini nama utuhku sudah menunjukkan kalo jenis kelaminku perempuan. Tapi pernah ada yang kebangetan, kalo ga salah inget di salah satu nota pembayaran hotel yang tetep kasih “MR” di depan nama utuhku yang berakhiran “i”.

Liat nih ya...
Pagi-pagi ada sms masuk gini:
06:39:54
Slmt pagi p Sugih,sy dari travel yg ke Tasik,Bp siap2 nanti di jpt jam 07.00,trims.

Kalo liat dari sms itu brarti pas telp buat pesen kursi aku udah nyebutin nama utuhku, karena di sms si sopir travel ini manggil aku “Sugih”. Kalo pas pesen aku cuma nyebut nama panggilan pasti yang dia tulis “Sugi”. Dan ternyata dia mengacu pada kuitansi yang dibikinin oleh kantornya yang tentu saja dibuat setelah aku telpon. Brarti ada kesalahan berantai di kasus ini. Padahal, aku sendiri (dengan suara cewek yang merdu) yang memesan dengan menyebut nama utuhku yang berakhiran “i”.

Halooo? Apa sulitnya sih nanya nama ini jenis kelaminnya apa? Daripada sok tahu tapi salah. Yaah, pada akhirnya kemudian tergantung gimana kita menanggapinya tho.

Sms pak sopir tadi akhirnya cuma aku bales: Siap, Pak. Btw, nanti kalo nyari saya cewek lho ya hehehehe...

Selasa, 25 Maret 2008

addiction

I’m addicted to ctrl-f.

Kata-kata itu yang aku ucapkan saat berdiri di hadapan puluhan orang yang berkumpul sebagai anggota kelompok pecandu di sebuah unit rehabilitasi. Hanya sebuah bayangan yang suka ada di scene film, tapi benar-benar terbayang jawaban itu yang aku ucapkan saat ditanya apa yang bikin aku tergantung.
Ya. Masing-masing orang punya kecanduan pada objek yang berbeda-beda. Ada yang kecanduan kopi, kecanduan rokok, kecanduan tidur, kecanduan makan, kecanduan cinta, atau yang sepele tapi penting kecanduan udara. Dan aku, selama ini ternyata kecanduan aplikasi sistem komputer, terutama saat mengoperasikan file program dengan ekstensi .doc atau .xls
Tiga hari ini dikejar-kejar dengan pertanyaan temen grafis, “Gi, dharmacala-ne ndi?” Huuuuuh!!!!!!!!! seandainya saja aku bisa tinggal menekan “Ctrl-F” di keyboard lalu menulis kata “dharmacala” atau “dharmasala”. Pasti dalam hitungan detik akan segera muncul di mana saja kata itu terkandung dengan nyaman.
Bayanganku, akan muncul dengan manisnya kalimat ini “dharmasala adalah bangunan yang digunakan sebagai persinggahan sementara para peziarah sebelum melakukan pemujaan di candi”.
Sayang seribu sayang....kalimat itu atau dengan susunan yang lainnya ada di satu atau dua lembar dari ratusan lembar yang ada di beberapa buku literatur tentang Candi Dieng. Aku yakin pernah membaca pengertian “dharmasala” di salah satu atau dua dari tumpukan buku itu.
Masalahnya, AKU LUPA! Dan aku merasa butuh “Ctrl-F” hu..hu..hu...
Apakah tersembunyi di buku Dieng Poros Dunia? Sedjarah Kuno Bangunan Candi Dieng? Ensiklopedi Indonesian Heritage seri Arsitektur atau yang seri Sejarah Awal? Atau di buku-buku dapat pinjam dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, tapi yang mana ya? Yang Studi Pemintakatan Kompleks Candi Dieng atau yang Laporan Konservasi Kompleks Candi Arjuna?
Masalahnya, tidak ada aplikasi apapun yang bisa menghubungkan sistem pencarian “Ctrl-F” dengan lembar-lembar kertas itu kecuali kekuatan memoriku yang payah ini.
End of story? Sampai detik terakhir deadline kekuatan memoriku tidak menghasilkan apapun ;( pengertian dharmasala aku ambil dari file foto yang aku ingat benar letaknya di mana. Namanya juga gambar....siapa yang tidak mengingatnya.
Hu..hu..hu..jadi pingin “Undo” atau “Refresh” nih....

Rabu, 05 Maret 2008

Hmmm.....

Untuk Perempuan.........(So7)

Jangan mengejarnya
Jangan mencarinya
Dia yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatinya, di hari yang tepat

Jangan mengejarku
Dan jangan mencariku
Aku yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatiku, di hari yang tepat

Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang
Dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia tak kan bertahan tanpamu

Sibukkan harimu
Jangan pikirkanku
Takdir yang kan menuntunku
Pulang kepadamu
Di hari yang tepat

Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang
Aku kan datang
Dan memungutmu ke hatiku yang terdalam
Bahkan ku tak kan bertahan tanpamu

Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang

Minggu, 10 Februari 2008

Very Important Person

Emang enak jadi pejabat!
Setidaknya selama beberapa jam ikut merasakan fasilitas pejabat yang emang enak ini.
Minggu siang saat santai sejenak di rumah sodara seorang rekan yang ikut rombongan di Wonosobo setelah dari pagi ikut acara menanam.
Tiba-tiba kabar yang sudah ditunggu-tunggu dari dua tahun lalu, terutama beberapa hari terakhir, akhirnya masuk. Kabar bahwa mantan RI-1 akhirnya mangkat. Langsung pamit cabut. Berubah arah dari semula kembali ke kandang di Semarang menjadi ke Solo. Kota yang paling dekat dengan lokasi pemakaman mantan RI-1 tersebut.
Sepanjang jalan ngebut, sms-sms, telpon-telpon, diramaikan gonta-ganti saluran radio menjaring info terbaru dari jauh.
Sampai Bawen belok kanan mulai masuk rute ke Solo yang termasuk sempit dan padat. Sudah agak pesimis bisa berlari sekencang sebelumnya.
Baru belasan kilometer pertama, dari belakang nguing-nguing sirene ramai mendekat. Beberapa mobil dan truk polisi di barisan depan disusul mobil-mobil plat B di belakangnya dan ditutup mobil polisi lagi. Semuanya dengan lampu kanan-kiri mengedip. Sebentar. Di belakangnya ada mobil sejenis carry yang tampak “kurang meyakinkan penampilannya sebagai anggota konvoi orang-orang penting”, meski berplat H.
Semua orang minggir memberi jalan.
Kami pun.
Beberapa detik berpikir, akhirnya mobil dipepet di belakang carry berplat H. Lampu kedip dihidupkan, kecepatan dijaga sejurus dengan konvoi panjang itu.
Hasilnya, perjalanan tergesa kami ke Solo lancar dan nyaman.
He..he..he..he...
Melanggar hukum? UU apa ya? Pasal berapa ya?
Tapi tujuannya kan sama....menuju Solo buat nyiapin sambutan peristiwa terpenting awal tahun ini “Kematian Paman Gober”.
Yeah....enak juga jadi very important person ya ;)

Piiiiiss.....

Jumat, 18 Januari 2008

fokus...

Hoaaaaahhhhhhhhhh!
"mereka punya jalan sendiri, seperti kita juga punya jalan sendiri"
Itu yang dikatakannya untuk menenangkan.
Tapi....masih saja tidak bisa dengan serta merta meniadakan yang sudah ada di depan mata.
Tidak...tidak semudah itu, meski keharusan untuk tenang dan fokus lebih prior dari apapun dan sapapun.
Wattafak!
Aku pantang mengganggu jalan orang lain, cuman aku berharap sebaliknya dari yang lain.
Ok, mungkin sekarang lebih baik menuruti katanya....fokus!
Fokus ke jalan masing-masing.
Selama belum nyenggol motorku, aku ga akan bunyiin klakson.

Selasa, 15 Januari 2008

Politik in Love

"Love has its own logic" kalimat itu sering keluar dari mulut salah satu temen.
"Love is blind" kalimat itu lebih sering terdengar di mana-mana dari siapa-siapa.
"Love is all around" hmm...keknya judul lagu deh ntah dari sapa lupa...
Apapun definisinya....papan kuning di atas punya peringatan yang tepat "Awas Jatuh Tersedot".
Jadi, kalo udah tau konsekuensinya sih kalo satu saat tersedot dan jatuh ke dalam "cinta-cintaan" maka udah siap buat nanggung tawa dan tangis-manis dan getir yang mengikutinya.
Ciyeee......kok jadi ngomongin "cinta" ya..

Yang jelas, cinta adalah masalah yang "serius".
Bahkan, Coldplay aja bilang kalo cinta juga butuh "politik"

Politik

Look at earth from outer space
Everyone must find the place
Give me time and give me space
Give me real, don't give me fake

Give me strength, reserve control
Give me heart and give me soul
Give me time give us a kiss
Tell me your own Politik

Open up your eyes
Open up your eyes
Open up your eyes
Open up your eyes

Give me one, cause one is best
And in confusion, confidence
Give me peace of mind and trust
And don't forget the rest of us

Give me strength, reserve control
Give me heart and give me soul
Wounds that heal and cracks that fix
tell me your own politik

Open up your eyes
Open up your eyes
Open up your eyes
Open up your eyes
Just open up your eyes

And give me love over, love over, love over this
And give me love over, love over, love over this

Senin, 14 Januari 2008

fresh meat...


Lima kijang kecil masuk ke kandang.
Bergerak berkelompok menunjukkan eksistensinya.
Suaranya masih lembut, belum banyak bicara.
Diam....diam...kalaupun bersuara maka kijang-kijang yang lebih lama ada di kandang itu perlu berkonsentrasi mendengarkannya.
Saat berkumpul untuk sekedar makan rumput bersama, kijang-kijang yang baru di kandang itu lebih banyak mendengarkan segala cerocosan keras dan tidak jelas konteksnya buat mereka yang terlontar dari para penghuni lama.
Di kepala mereka ada tuntutan untuk bisa segera membaur dengan kelompok.
Di kepala kijang-kijang yang lebih lama di kandang ada berbagai spekulasi mengenai anggota baru ini.
Salah satunya, "berapa dan siapa yang akan tetap bertahan di kandang ini" dan "berapa dan siapa yang akan "diminta" pergi atau "tersadar" untuk pergi dari kandang itu.
Sebuah pertanyaan spekulasi yang mulai dilemparkan di antara kijang-kijang lama...yang beberapa musim telah banyak mengamati.
Insting kijang dipertaruhkan untuk meramalkan jawaban pertanyaan tersebut.
Pertaruhan yang mengasyikkan.
Apalagi, pengalaman membuktikan intuisi kijang-kijang lama sudah terasah dengan melihat pergantian kijang-kijang baru yang masuk dan sebagian di antaranya keluar dari kandang.
Karena, sebenarnya kandang tersebut telah memiliki standar ideal untuk penghuninya...
Mari kita lihat bersama kelincahan kijang-kijang baru itu dan bagaimana kekuasaan kandang memilihnya...
Selamat datang ke kandang yang unik ini ;)

Selasa, 01 Januari 2008

Menjadi Wajib Pajak..aaaarrrggghhhh!!!

Dua hari sebelum hari pertama di tahun 2008.
Sebuah amplop coklat yang biasa digunakan untuk menyimpan kertas seukuran folio ada di atas kasur.
Di amplop itu tercetak dengan tinta hitam nama sebuah instansi penting di negara ini, sebagai pengirimnya.
Direktorat Jenderal Pajak..bla..bla...
Sementara, namaku benar tertulis di kolom penerima.
Tapi tunggu! di bawah namaku terketik sederet angka-15 digit.
Di bawahnya ada alamat yang kukenal.

Apa hubungan antara aku n Dirjen Pajak?
Hmm...apa mungkin ini ada hubungannya dengan langkah massal aku dan teman-teman di kantor yang mengumpulkan fotocopy KTP dan kartu karyawan yang katanya untuk mengurus NPWP alias nomor pokok wajib pajak.
Mungkin iya...(tapi setelah di kantor dan bertanya kanan-kiri, kok belum ada yang senasib denganku ya? Haloo?!)

Apa isinya?
Segepok kertas putih formulir yang harus diisi.
Bagaimana aku tahu kalau semua itu harus diisi?
Karena semua kolom yang tersedia masih kosong.
Karena segepok formulir itu disertai sebuah buku kuning yang mencolok.
Sebuah buku yang di sampul depannya tercetak dengan rapi...
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

PETUNJUK PENGISIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI (SPT TAHUNAN PPh WP ORANG PRIBADI)

(SPT 1770 beserta lampiran-lampirannya)

JAKARTA, EDISI TAHUN 2007

Huaaaaah....
Ternyata di awal tahun 2008, aku (secara personal) mulai dihitung oleh Pemerintah Republik Indonesia yang terhormat ini sebagai salah satu warga negara yang berkewajiban untuk berpartisipasi dalam pendanaan penyelenggaraan negara.
Hmm....di tengah segala karut marut dan sisa cabikan kepercayaanku pada kredibilitas pemerintah dalam menjaga dan mengelola TERUTAMA mengamankan uang rakyat (termasuk uangku berarti) dari aktivitas koruptor (internal maupun eksternal pemerintahan) aku ditagih untuk berpartisipasi mendanai negara tercinta.

Jadi teringat iklan layanan masyarakat yang gencar mengingatkan partisipasi warga negara untuk membayar pajaknya.
Mau fasilitasnya, tapi tidak mau membayar kewajiban pajaknya...."Apa Kata Duniaa?!"

heuheuhuihuahahahaha...

Apa kata dunia?
Bolehkah kita memilih pengelola pajak kita sendiri?
Bukannya aku tidak percaya pada pemerintah yang mengelola pajak kirimanku...
Tapi, aku memang susah percaya hi..hi..hi..

Di sisi lain, ada masalah krusial yang lebih penting untuk dijawab pertama.....
1. aku tidak mudeng bagaimana mengisi segepok formulir itu
2. aku sudah pusing duluan melihat ratusan kolom yang harus diisi
3. aku sudah.....pusing
4. kenapa administrasi negara ini begitu rumit? Bagaimana dengan dunia administrasi kewarganegaraan di negara lain?

Yeah, sepertinya harus diurai satu-satu.
Mungkin langkah pertama adalah mencoba berusaha keras membaca dan memahami isi dari buku kuning....huh! kerja keras...Semangaat!

Kamis, 20 Desember 2007

Sapa sih CIMUT?



Namanya Cimut.
Artinya apa ya? Apa maksude si imut (yang diplesetkan jadi ci imut=cimut)
Kulitnya coklat agak terang dengan dua daun telinga kecil tegak menunjuk langit.
Biar masih mungil Cimut udah tau gaya, liat aja udah pake poni segala. Wuih...
Dot merah mengunci mulutnya sementara semacam serbet putih berenda yang biasa dipake bayi pas makan juga menggantung di lehernya.
Bentar. Tangan kirinya ke atas dan jarinya menunjuk lurus ke samping agak belakang. Meski sebenernya kalo diperhatikan...hmm...komposisi yang aneh.
Dan yang paling aneh.....aku ga kenal diaaa! Bahkan aku juga ga tau kapan dia lahir.
Cimut...sapa sih kamu?????

Aku ngerasa kecolongan karena keluarga besarnya aku kenal semua...dulu.
Malah dulu aku akrab banget ma keluarga si cimut ini.
Uuuuh, kenapa ga ada yang ngasih tau aku yaa..

Aku kenal Bobo dan adik-adiknya Coreng dan Upik, sama temennya Doni.
Aku juga kenal ma Bapak dan Emak si Bobo.
Juga Paman Gembul.
Terus? Apa Cimut nih adik paling kecilnya Bobo? Trus kapan lairnya?
Ato keponakan Bobo bersaudara, yang artinya anaknya Paman Gembul (eh, btw, Paman Gembul tuh masih keluarga mereka kan? Uuh, jadi ga yakin). Kalo gitu Paman Gembul udah merit dong, trus sama sapa ya? Eh, kapan meritnya ya?
Ato adiknya Doni?

Rantai pertanyaan-pertanyaan ini muncul hanya karena satu hari ada temen ngasih selembar stiker persegi panjang.
Di atasnya tertulis “bobo JUNIOR”.
Di bawahnya berderet delapan stiker bulat yang masing-masing isinya headshot dari anggota keluarga Bobo ‘n friend.
Nah, Cimut ini yang jadi unidentified profile.
Jadi inget ma saat2 masih akrab dengan Majalah Bobo yang sampai sekarang terakhir Jumat lalu masih aku liat di warung ter-display.
Dongeng n cerita anak-anak yang berpelajaran.
Nirmala, Oki, dan Nenek Sihir...yang lain yang paling aku inget.
Majalah Bobo is a legend!
Moga tetep banyak bahan bacaan bermutu buat anak-anak.
N buat anak-anak di manapun.....tolong biasakan untuk suka membaca yaa.
Itu lebih berguna daripada membiasakan diri menonton. Apalagi saat televisi sedang tidak banyak memberikan pilihan yang mendidik. Televisi saat ini memang.............Ups! kok jadi melebar ngomongin televisi segala yaa.
Fokus ke Cimut n his family.
Waaah, pertanyaan lagi nih....kok aku pake his ya?jangan-jangan Cimut is a girl? So, last question, is Cimut a boy or a girl?




Jumat, 16 November 2007

renov

Ga cuman renovasi rumah dalam bentuk fisik aja yang ga mudah.
Alih-alih nyusun bata satu per satu, mikirin warna cat buat tembok, ato ngisi perabotannya...renovasi kandang di dunia maya pun ternyata bikin ribet n mancing emosi.
Beberapa lama ga posting baru gara-gara ngiri liat album poto keren milik blog tetangga trus berusaha keras mengadaptasinya di rumah baru ini.
Ternyata ga semudah copy-paste bahasa program karena tulisan dengan warna merah berkali-kali muncul menghambat langkah...
Uuuh, akhirnya menyerah untuk masang kamar jenis itu di sini.
Akhirnya setelah ngulik2 yang dipunyai pengembang sendiri malah nemu..mungkin sederhana n ga sekeren seperti yang awalnya diinginkan..
Tapi, yang penting dia bisa cocok di rumahku. itu yang lebih penting
He..he..he..terkadang idup adalah kompromi

Rabu, 07 November 2007

when 2 mad men meet in d chatroom

Dua orang dipisahin jarak yang terhubung di ruang ngobrol teknologi tinggi, malem2 ketika sebagian besar orang udah istirahat di rumah, melakukan hal yang hampir sama dalam sebuah frame pekerjaan, saling berbagi lelah dan meminta timbangan, dari serius menjadi rusak dan kembali serius...sedikit sekelumit yang serius menjadi rusak gya..ha...ha...
..........bla......bla.........bla...........
B: dari Jogja apanya?
S: naik KA sekarang berapa?
B: Ooo
B: Eksekutif?
S: ya iyalaaah
B: 180
S: masak selevel aku naik ekonomi sih
S: masih segitu ya?
B: 180 Su...
S: kirain mpe 300an
S: soale pas lebaran kemarin kan sekitar 250an
B: Ga
B: Pasa Lebaran nyampe 350
B: aku bayar 350
B: eh salah
B: kantor bayar 350 untuk membawaku ke jakarta
S: la yang 180 tuh apa?
B: Harga normal
B: harga lebaran 350
S: emang turun lagi sekarang?
B: Ya Iyalaahhh
B: secara udah ga lebaran lagi gitu loh...
S: oh secara daripadanya gitu loh
B: Ya iyalah
B: Untuk yang akan tetapi gituloh
S: secara lo lagi nongkrong di jakarte ni yee
B: Yoi Coy
S: lo udah kemane aje?
B: Lagi Nongkrong di Kantor neh, biasa gaul...
B: Udah ke Mess Coy
S: yang lain men
B: ke Kantor juga sering banget jek....
S: geblek banget lo coy
S: selain kantor ame mes ni ye
S: udeh gaul kemane lagi?
S: udah ke monas belon lo?
S: ato ngemol kek?
B: Udah
B: Kemaren nongkrong di WC
B: Hari ni juga bro...
S: keren banget tongkrongan lo
S: ntar kalo gue maen ke jakarte boleh dong diajak ke tongkrongan lo, men
B: Gampang Coy
B: Lo dateng aje ke sini
S: kemane?
B: Pasti gw anter
B: ke tempat boker...
S: tempat boker?
S: kedengarannya keren banget tuh tempat ye
S: lo emang luar biasa, coy
S: ga nyesel punya temen gaul kek lo, men
S: pis men!
B: Yoi Mbak
B: eh coy...
bla.......bla...........blaa......

Note: don't try this at home!!!