Tampilkan postingan dengan label lerningsamting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lerningsamting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2009

an empty hole



Tiba-tiba rasa panas muncul di antara dada dan tenggorokan. Rasa yang secepat kilat merembet ke mata, air menggenang memenuhinya. Melalui lensa mata yang berair aku melihat adik perempuanku juga menangis di depan sana, di kursi pelaminannya.
Pertanyaan muncul di benak, apakah penyebab dia menangis saat perjanjian seumur hidup dengan seorang lelaki sedang berlangsung sama dengan alasanku menangis di momen yang sama dulu?
Tapi, kenapa ya dulu tangisan itu tak tertahankan? Hmm...bahagia? pastinya ada rasa itu. Apalagi, aku akhirnya menikah dengan lelaki itu dengan cara dan prosesi yang kami inginkan. Juga, bahagia karena kehadiran sahabat-teman yang juga keluargaku dari penjuru tempat. Namun, bukan itu yang menjadi penyebab utamanya. Sedih, lebih tepatnya. Rasa yang jauh sebelumnya aku tahu itu akan muncul di momen itu.
Ketidakhadiran Ibu lah yang membuat sebagian besar tangis itu tertumpah. Selalu ada tempat yang kosong dalam setiap momen yang kulalui, dan inilah puncaknya. Pemilihan tempat prosesi saat itupun sebenarnya untuk mengisi kekosongan itu. Rumah, halaman, masjid, termasuk dua pohon mangga besar yang menjadi setting adalah juga milik beliau dulu. Berusaha merasakan kehadirannya justru semakin membobol pertahanan air di mata.
Cukup tentangku. Mungkin benar seperti komentar mbakku.Menurutnya yang banyak menangis adalah mereka yang berhubungan dekat dengan pihak ibu pengantin, yang sudah tidak ada. Dan, sore itu selain adik perempuanku, sang pengantin, kami saudaranya, keluarga dari pihak ibu, dan bapak, tidak bisa menahan tangisnya. Begitupun, sang pengantin laki-laki, bapaknya, dan beberapa anggota keluarga, yang kami duga juga adalah keluarga dari pihak ibu pengantin laki-laki yang sekali lagi juga telah tiada.


For my mommy,
maafkan kami...kami tidak bisa untuk tidak merindukanmu...

Jumat, 12 Desember 2008

Ke Jakarta


“Ke Jakarta” kata-kata yang diikuti tanda panah ke arah barat itu terpampang jelas di atas peron 1 di Stasiun Tawang.

Ke Jakarta adalah tujuan yang biasa aku awali dari stasiun terbesar di Kota Semarang ini. Dua hari kemudian atau seminggu kemudian atau sebulan kemudian atau dua bulan kemudian perjalanan balik kembali diakhiri di stasiun ini.

Ke Jakarta selama ini sekadar tempat yang mengundangku untuk sementara waktu. Tempat belajar, bertemu dan nongkrong dengan teman-teman, serta menikmati kemacetan dan keruwetan Ibu Kota. Menikmati? Yup. Karena selama ini aku tahu persis bahwa kenyamanan Semarang sebagai kota tempatku berproses selama ini masih menunggu.

Tapi, tampaknya pola akan berubah. ”Ke” Jakarta berubah menjadi ”di” Jakarta. Segala hiruk pikuk kota terbesar di negeri ini insyaAllah akan menjadi keseharianku.

Tinggal menghabiskan kalender tahun ini. Menyiapkan diri dengan hal-hal baru sekaligus melihat dan merasakan Semarang—kota yang 28 tahun mengajariku banyak hal—dengan cara yang berbeda.

Dengan menyebut namaMu

Rabu, 26 November 2008

Cermin terang


Tubuhnya ramping. Tingginya tidak lebih dari aku. Rambutnya yang ikal dipotong sebahu. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya siang itu, perempuan itu termasuk orang yang memerhatikan penampilan. Celana kain panjang warna coklat gelap dipadu dengan blus lengan panjang bermotif bunga-bunga besar berwarna senada. Di luarnya, jaket coklat berbahan kain sampai setengah paha menutup tubuh. Alas kaki yang tak bersuara saat melangkah melengkapi penampilannya.
Aku memilih duduk di sebelahnya karena kursi lainnya masih kosong. Mengantri menjadi kegiatan kami bersama siang itu. Kami berdua duduk di deretan kursi yang saling bersambung menempel di tembok. Sudut lorong itu masih sepi. Pintu-pintu ruang di depan dan samping kami tertutup. Hanya tembok berwarna hijau telur asin dan lampu di langit-langit serta kesejukan buatan yang menemani.
Ternyata, perempuan itu sedang menunggu giliran konsultasi dengan dokter yang berbeda denganku. ”Saya itu akhir-akhir ini gampang sakit. Trus sama dokternya kok malah dirujuk ke sini, ke psikiater,” katanya.
Perempuan yang aku taksir berumur sekitar 60-an tahun ini kemudian berkisah. Dia masih tidak habis pikir rujukan dokternya agar dia berkonsultasi ke psikiater. Tak yakin kalau penyebabnya adalah kematian suaminya dua tahun lalu. Menurutnya, akhir-akhir ini dia merasa tidak memikirkan hal itu. Jadi, apa hubungannya dengan penurunan kesehatannya.
”Ya mungkin secara nggak sadar masih dipikir dan ternyata membawa pengaruh ke kesehatan kita, Bu,” kataku mencoba menanggapi. Tanggapan yang seperti menempatkan cermin di muka sendiri.
Kehilangan orang terdekat memberi pengaruh dahsyat. Khas bagi setiap orang sekaligus sama bagi semua orang. Sudah hampir sepuluh tahun lalu ibuku pergi. Saat dia bersiap pergi, saat dia pergi, sesaat setelah dia pergi, bahkan lama setelah dia pergi ada rasa yang sama. Yang paling terasa sesaat setelahnya adalah tidak ada siapa pun berdiri di belakangku saat aku menengok. Posisi itu kosong. Hal lain yang membekas kuat adalah cara pandang yang berbeda tentang kematian. Menjadi lebih nyata. Terasa lebih dekat.

Hanya sekitar seperempat jam perempuan senja itu masuk ke ruangan di depanku itu. Saat dia keluar, senyum ramah masih sempat dia kembangkan untukku yang masih menunggu dokter datang. Langkahnya ringan dan sigap. Tampaknya bukan perempuan yang lemah. Tapi, sepertinya rasa yang dipendam itu masih belum tenang tersimpan di dalam.

Rabu, 19 November 2008

Evribadi lov statistik (?)

Abis rapat sore balik ke meja, ada pesan di monitor yang bernada ”memaksa” dari cah mumet di batavia heuheuheu...

BUZZ!!!
lawni: njaluk tulung kiiii
lawni: 2005 2006 2007
40 51 58
tahun 2008 brapa?
lawni: buneeee
lawni: tolong
lawni: aku kan guoblog masalah statistik
lawni: buneeeeeee T_T
sugie: sssttttt
sugie: bengok bengok
sugie: bar rapsor ni
sugie: aku buka xls sik
BUZZ!!!

Hmm....untung dia nanya itung-itungan statistik ma aku sekarang. Coba nanya lima tahun lalu ato sepuluh taun lalu pas setelah ngikutin mata kuliah dasar statistik...pasti jawabnya: GA MUDENG!
Itung-itungan emang kek barang bernoda yang aku jauhin n ga aku suka banget waktu sekolah, kecuali itungan duit lho ya. Makanya pas SMA milih jurusan IPS heuheuheu.
Sekarang, meski ga pinter-pinter juga sih, setidaknya lebih paham n lebih menyukai yang namanya statistik.
La gimana nggak? La wong makanan saban harinya kek gitu sekarang.
La kok dulu milih gawean ini? Apalagi di lowongan kan udah tertulis: dicari staf litbang? La dulu kirain ga ngurusin itung-itungan banget secara staf litbangnya kan buat media massa (o’on banget ga sih).
Hasilnya, sebulan pertama masuk kerja di kantor palmerah kerjaan utamanya adalah ngentri data angka sampe belenger. Tapi, ternyata jadi lebih kebal ma angka-angka. Emang bener sih kata orang, tak kenal maka tak sayang (untung ga sebaliknya efeknya bisa didepak dari kerjaan).
Hampir lima tahun ini jadi intim banget tuh ma statistik. Yang dicari-cari, yang diliat-liat, yang dikulik-kulik....ya buku-kertas lembaran-file angka-angka. Kita ”terpaksa” belajar jadi bisa. Kek nasib lawni juga sekarang yang mo ga mo kudu blajar itung-itungan secara kerjaannya jualan minyak (kalo ga mo didepak hihihihi).

Makan tuh statistik!......Mana-mana? heuheuheu

Obat Mendung

Terkadang suasana hati selaras dengan suasana alam.

Semalam perjalanan pulang menghabiskan waktu dua kali lipat dari biasanya. Hujan yang kembali mengguyur mulai jam setengah sepuluh menghambat niatku pulang. Bepergian dalam keadaan hujan di Kota Semarang tidak hanya memikirkan basahnya tubuh, tapi terutama jalur mana yang bebas banjir. Alhasil, selain lambatnya laju motor karena lebih berhati-hati, perjalanan lebih panjang karena terpaksa mencari jalur yang aman. Sesampai di rumah, badan yang sudah letih seharian terasa bertambah letih.

Pagi tadi bangun dengan rasa pegal-pegal tersisa. Otot di pundak kanan terasa menjadi pusatnya. Malas beranjak menjadi selimut. Sebelum setengah sepuluh—lagi-lagi—hujan turun. Keramaian ibu-ibu tetangga yang sedang asyik berbelanja di depan rumahku langsung menyebar. Di dalam rumah, ritualku bersiap ke kantor terasa lambat.
Mendung masih tersisa setelah hujan. “Aah...aku akan ditemani mendung lagi hari ini,” batinku. Suasana hatiku pun sedang mendung. Perdebatan yang menyisakan ketidakenakan karena perbedaan persepsi antara dua kepala-dua hati barusan terjadi. Pas benar.
Ketika sedang menyiapkan dan memanasi motor, tiba-tiba ada suara seseorang menyanyikan lagu yang aku kenal. Aah, seorang pengamen di hari yang mendung. Tunggu dulu, lagu ini kan lagu yang aku suka. Dan, bibirku otomatis tersenyum sendiri....

Saben wayah lingsir wengi
Mripat iki ora biso turu
Tansah kelingan sliramu
Wong ayu kang dadi pepujanku

Bingung rasane atiku
Arep sambat nanging karo sopo
Nyatane ora kuwowo
Nyesake atiku sansoyo nelongso

Wis tak lali-lali
Malah sansoyo kelingan
Nganti tekan mbesok kapan nggonku
mendem ora biso turu

Si bapak pengamen mengakhiri lagunya. Padahal, bait yang paling aku tunggu belum dinyanyikannya. Tampaknya dia tahu aku sengaja mengulur-ulur waktu pemberian honor. Sambil memberikan honornya aku bilang,”Lho kok sampun mandek, Pak?”.
Sambil bersenandung aku teruskan lagu itu sebisaku. Maturnuwun sudah membuat mood-ku kembali.

Opo iki sing jenenge
Wong kang lagi ke taman asmoro
Prasasat ra biso lali
esuk awan bengi tansah mbedo ati

(Lagu Campursari Ketaman Asmara oleh Didi Kempot)

Kamis, 30 Oktober 2008

10 facts bout me

10 Tentangku
(akhirnya kegarap juga PR dari mizz nanik)

1. Ga tahan kedinginan
Paling males kalo kudu tidur dalam keadaan methithilen ato kedinginan yang amat sangat. Pernah ada acara di pegunungan pas malemnya dingiin. Akibatnya, posisi tidurnya kaku karena njaga badan anget jadinya bangun ya pegel-pegel. Paling dahsyat, seingatku, pas kecil liburan ma sepupu-sepupu di rumah sodara di Grabag, Magelang. Hanya berapa jam sesiang aja badan terasa bebas bergerak sisanya kedinginan! Waktu tidur bagaikan siksaan. Yang dahsyat terakhir pas ikut WHY n KUM ke Merapi lewat Selo, Boyolali, beberapa bulan pra letusan. Ceritanya tidur di rumah warga di lereng gunung. Awalnya ngelingker di kursi ruang tamu tapi karna ga tahan dinginnya akhirnya masuk mobil mpe terang hari. Maklum cah pantura-Semarang.
2. Makan enak=krupuk/pedas/gorengan
Aku suka makan apapun. Tapi, akan terasa jauh lebih nikmat kalo rasanya pedas trus ada yang bersuara kriuk-kriuk ketika dimakan, ditambah gorengan yang gurih nikmat. Yummy banget deh pokoknya.
3. Punya ombak di telinga
Pastinya lupa sejak kapan aku punya ombak di telinga. Mungkin sekali mulai akhir 1999 ketika kehilangan mendalam bikin aku nangis dengan amat sangat seriusnya. Biasanya suara bergemuruh yang berdenyut lemah dan kencang bergantian itu muncul kalo aku lagi—sadar ato ga sadar—sedih, tertekan, ato stres. Kalo lagi kenceng aku mpe susah konsentrasi menangkap suara dari luar diriku. Hehehehe...kek serius banget ya.
4. Endut
Seingatku dari kecil tubuhku selalu ada di bentuk yang cubi-cubi. Makanya, di satu masa ada aja yang manggil aku (dengan sayang tentunya)...”Genduuut”. Pas lingkungan rumah yang dulu (2 rumah sebelum yang ini) ada tetangga yang kalo lewat rumah hampir selalu memanggilku dengan sayang. Maklum penggemar..uuuh. mpe sekarang kalo sms juga masih ding. Temen deket di kantor juga hobi manggil gitu.
5. Masa kecil menyenangkan
Banyak sekali hal seru yang aku alami semasa kecil. Berkebun: macem-macem sayuran, macem-macem buah, empon-empon, macem-macem bunga. Bersawah: padi. Beternak: macem-macem ikan di blumbang (empang), ayam. Bermain: panjat macem-macem pohon, ngusirin burung yang mo makan padi, numbuk padi, mainan mercon bumbung (dari bambu). Punya geng semasa SD namanya nikipiruri-singkatan dari lima nama anggotanya yang suka belajar n bersepeda n bermain bareng. What a treasure..
6. Kurang telaten ngrawat diri
Kecantikan n kesehatan tubuh butuh perawatan rutin dan terus-menerus. I know that! Tapi susyaaah. Pernah lagi sadar kalo tubuh berhak olahraga, mutusin ikut senam aerobik. Persiapan: beli sepatu olahraga n celana senam. Terdaftarlah aku di kelas senam dekat rumah. Jadwalnya seminggu dua kali n karena sore-malam aku masih di kantor jadinya ambil jam pagi hari. Ya, sempat jalan 3 bulanan kali ya (dengan banyak absen). Trus, sekitar setengah tahun lalu gabung juga di pusat perawatan wajah dan kulit terkenal berbiaya cukup mahal. Beberapa kali perawatan n beli krimnya. Sebelum tidur wajah dibersihin trus dikasih krim malam, kalo pagi pake krim harian yang ada tabir suryanya. Itu perawatan minimalnya. Sekitar dua bulan ini ga balik lagi hehehe..baliknya make kosmetika pasaran yang di jual bebas. Lebih praktis n murah!
7. Barusan merit
Alhamdulillah mei kemarin udah merit. Ma lelaki yang bertahun-tahun sebelumnya aku yakin kalo aku ingin menua bersamanya. Ciyeee...sok romantis bangetz.
8. Suka banget wisata kuliner
Di setiap tempat yang didatengi, terutama new place, kepikirnya makanan khas apa yang harus aku coba di sini. Paling favorit ma nasi megono Pekalongan, tahu kupat-nya Magelang, n sroto Purwokerto. Ehm, kangen juga sih ma lentog-nya kudus n mi ongklok Wonosobo. Trus..trus..sate Ambal Kebumen, wedang ronde Salatiga, n (hihihihi ini khas ga ya?) sawarma Kottabarat Solo…Pokoke maknyuus pemirso!
9. Mood-nya bergelombang
Kadang naik, kadang turun. Kadang malah naik-turun secepat kilat. Kalo lagi bete paling ga bisa dibikin senyum n kadang panasnya bikin yang lain ikut keselomot. Kalo lagi good mood, bisa ngoceh terus n cengar cengir sambil ngemil. Paling bete kalo dibohongin, rencananya dikacoin ma orang, ato lagi banyak pikiran.
10. Belum keluar dari kota kelahiran
Mpe umur sekarang ini belum juga keluar dari Semarang tercinta. Perjalanan ke luar kota sih sering, cuma maksudnya stay in long term di kota lain belum pernah. Lahir n besar di Semarang. Sekolah dari TK mpe kuliah di sini juga, sempet coba daftar alternatif kuliah di Jogja tapi ternyata UMPTN ketrima yang di Semarang. Kerja mpe sekarang masih ditugasin di biro Semarang, padahal perusahaan nasional. Wait for the right moment i think.

Ok, karena ini PR berantai jadi sepuluh teman yang masuk daftarku untuk lanjutin garap ini ada a’adumas, cerita novi, duniaBAH, fhyta, matahari, nice riri, si kukum, antonili, eri owe, suwarna.

Aturan Mainnya nih jangan lupa:
1. Each blogger must post these rules
2. Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves
3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
4. Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog

Senin, 27 Oktober 2008

Awas Copet!!!



Sapa coba yang ga kaget dapat note kek gitu? Tapi, gara-gara note itu kita jadi punya jawaban beberapa pertanyaan yang sempet muncul di kepala ngliat hal-hal kecil yang terjadi sebelumnya.

Misalnya, pertanyaan kenapa sih kondektur bis yang tinggi besar n sekilas cukup preman itu selalu melihat ke arah tempat duduk kami (meski ga secara langsung ngliat ke aku n de) setiap kali dia mondar-mandir di dalam bus. What's wrong with us?

Ato pertanyaan seperti kenapa sih orang yang duduk di belakangku (aku duduk di sebelah kanan deket jendela) terus-terusan usreg (bahasa Indonesianya apa ya? mungkin gak tenang-gerak-gerak terus). sampai ada saat dimana dia ribet merogoh-rogoh sesuatu seperti ada barangnya yang jatuh. Aku sempet berpikir penumpang di belakangku itu copet n lalu berbagi kewaspadaan ma de. Tapi penumpang itu kemudian tenang setelah sebelahnya pindah ke kursi di depan kami yang baru saja ditinggalkan dua anak muda yang turun Salatiga. Aku pikir dia jadi "diam" karena tempat duduk yang ditinggalkan sebelahnya tadi kemudian diisi sang kondektur. Aku pikir dia jadi "takut" karena dijejeri kondektur.

Tapi, setelah kondektur yang duduk di belakang kami tadi akhirnya memberikan secarik kertas peringatan tadi ke de, kami jadi paham ternyata si trouble maker adalah penumpang yang sekarang duduk di depan kami.

Akhirnya setengah perjalanan dari Semarang ke Solo malam itu kami habiskan dengan mengamati si copet. Seorang bapak yang umurnya sekitar 40 tahunan, berbadan besar dan tinggi, berkulit gelap, memakai celana kain bersaku banyak dan sabuk besar-seperti bawahan satpam. Kami terus memerhatikan si bapak yang sempet "diam" kek tidur, meregangkan badan, celingak celinguk, lalu pindah ke bangku di depan yang udah kosong sedikitnya 2 kali.

Mendekati Kerten, kami bersiap turun. Urutan turun pun udah diatur. De di depan karena dia bawa barang n dompet di celananya, kamera n dompet kami cek sekali lagi. Sementara itu, posisi si bapak tegak di kursinya yang ada di pinggir setengah condong ke jalan tengah bis. Posisi waspada...duh, gimana nih? Tengok kanan kiri belakang depan ternyata kondektur yang baik tadi ada di pintu belakang. Ok, akhirnya kita ke belakang.

Di belakang kita jadi bisa ngobrol n terutama berterimakasih ma pak kondektur tadi. Ternyata sejak awal perjalanan kondektur sudah waspada ma si bapak yang katanya udah beberapa kali ikut bisnya tapi blm sekali pun berhasil. Katanya lagi, sebenernya si copet sedang tidak "bertugas" tapi hanya iseng "nyari" hehehehe. n katanya juga kita udah jadi sasaran si bapak (iih...serem! btw, kita kliatan berharta ya?). Menurut kondektur itu, si copet sendirian (padahal aku sempet curiga ma beberapa orang lain karena kepikirnya mereka komplotan, hihihi sok tau banget). Seru banget deh perjalanan kali itu (apalagi karena kami ga jadi kecopetan...Alhamdulillah!!!).

Tips Waspada Copet di Bis Antarkota (menurut kondektur yang baik):

1. Waspadai orang-orang yang "ga tenang" posisinya.

2. Waspadai orang yang biasanya terlihat celingak-celinguk.

3. Waspadai orang yang beberapa kali berpindah tempat duduk.

4. Jaga n tempatkan barang-barang berharga di posisi paling aman.

Selasa, 09 September 2008

Bandung (4): Bahasa Sunda teh.. riweh!



Selama ini kemampuan ragam bahasaku lumayan banyak. Ehm...bahasa Indonesia pastinya, bahasa Jawa alus, bahasa Jawa ngoko, bahasa Jawa campuran Indonesia, bahasa Indonesia campuran Jawa, n bahasa Inggris sethithik. Dari semuanya aku spesialis bahasa Jawa n Indonesia Semarangan hehehe....mantap tenan ’ik. Tapi ternyata dengan modal bejibun kek gt belum menjaminku bebas dari lost in translation.

Tatar Sunda menjadi pengujinya. Pas dateng ke Bandung kemarin emang langsung kerasa hawa Sunda-nya ketika duduk di Stasiun ada dua cewek yang ngecipris berbahasa Sunda. Tapi pas ketemu indah n nanik di kosan langsung deh lidah kembali lincah n telinga menemukan kosakata-kosakata familiar, Djowo bangget! Di kantor juga gitu. Ya ga bisa disalahkan karena sebagian besar berisi orang-orang Djowo juga. Kalopun ke luar kantor, Bandung pun kurang kental aura bahasa Sunda-nya secara banyak pendatang hilir mudik di situ. Paling tersisa kosakata bahasa Sunda yang populer disertai logat n aksen yang meliukkan ke-Sunda-annya.

Aku bener-bener speechless pas jalan ke Tasikmalaya-Ciamis-Banjar. Biasanya di angkot tuh. Orang-orang pada ngobrol dengan serunya tanpa aku mudeng. Boro-boro sampai level memahami, menangkap kosakata yang diucapkan aja susah bangeet. Buat telingaku, orang Sunda yang berbahasa Sunda itu kalo ngomong cepet banget. Selain itu, pengucapannya tipis...ga setebal bahasa Djowo yang lumayan penuh dengan kosakata n aksen tebal. ”La, mbok ojo ngono tho yo...”, ini yang Djowo. Beda dengan, ”ini teh susu..”, bisanya ngutip iklan yang pake aksen bahasa Sunda heuheueheu..

Ada beberapa kosakata yang masih nyantol di kepalaku dengan caranya masing-masing. Semisal, kata calik. Kata ini pertama aku denger pas ikut indah ke Dinas Kesehatan. Meraba-raba artinya dengan menyesuaikan bahasa tubuh yang mengikuti. Waktu itu si pelontar kata sambil mengarahkan mata dan tangannya ke kursi. Oooo...jadi artinya ”duduk”
Lain lagi dengan kata payun. Sering banget denger pas naik angkot. Sempet ngira artinya ”Pak” karena pas mo turun ada ibu-ibu yang bilang ”payun, nuhun”, kirain maksudnya ”Pak, makasih”. Hehehe...ternyata artinya ”depan”. Yang paling sering dipake ”payun, kiri” artinya ”depan, kiri”. De yang fasih berbahasa Sunda bilang, kebalikan payun itu pengker, artinya ”belakang”.

Ga cuman kosakata nih. Pronounciation alias pengejaannya juga rada-rada ga biasa. Pernah pas nanya ejaan nama ”Arifin” jadinya macet di ”f”. Aku nanya pake ”ef” ato ”pe”. Eeeh, si bapak bilang, ”pake ep...ep...”. Hanya ada di sini nih ejaan ”ep” hihihihihi. Menarik sekali emang....ribet tapi.

Jumat, 25 Juli 2008

Satu Siang yang Luar Biasa


Ekstrimitas terkadang menjadi sesuatu yang mengesankan.

Duduk di tembok rendah panjang yang biasa ada untuk membatasi teras ruang-ruang kelas di sekolah (aku biasa menyebutnya dalam bahasa Jawa, buk) aku menyaksikan keseharian yang membangun kesan dalam di benak.

Melihat ke arah sebelah kiri bangunan di mana aku duduk di terasnya, ada bangunan kantor yang diperuntukkan bagi para guru dan kepala sekolah. Di terasnya ada beberapa orang guru yang sedang berbincang diselingi cengkerama selepas jam sekolah. Ramai di sudut itu.

Melihat lurus ke depan ada bangunan kelas sederhana setelah halaman berpohon jarang. Di depannya anak-anak berseragam putih-biru masih asyik mengobrol dalam kelompok-kelompok. Sebagian berbincang dengan serius, sebagian lainnya berbincang santai dan tertawa-tawa. Ramai juga di sudut itu.

Lalu apa yang aneh dan ekstrim?
Pada keduanya aku bisa melihat keramaian dan keceriaan.
Pada keduanya aku melihat percakapan yang seru.
Indera penglihatanku mengesankan hal yang sama.
Tapi, tidak begitu pada indera pendengaranku....
Di sudut kiri aku melihat sekaligus mendengar serunya percakapan itu.
Interaksi yang diwakili bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan suara.
Di sudut depan aku melihat.....hanya melihat...interaksi yang terwakili bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Tidak mendengar suara.
Di sudut itulah aku melihat keramaian dalam hening.
Luar biasa....
Lama-lama justru keheningan mereka yang menyedot konsentrasiku. Suara-suara nyata yang keluar dari arah kiri menjadi samar.
Luar biasa....
Mereka saling bercerita, mengejek, dan pura-pura berkelahi....dalam ceria.
Akhirnya keheningan yang mengesankan itu bubar.
Satu per satu saling berpamitan dan berjalan ke luar kompleks sekolah yang tersudut oleh kapitalisme itu.
Beberapa berjalan lewat di depanku.
Dan aku masih tertegun.

Beberapa saat kemudian, sepi dalam arti sesungguhnya...tanpa suara di sekelilingku.
Dan di dalam ruangan di mana di depannya aku duduk dari tadi, aku melihat papan pajang yang penuh tempelan gambar yang diwarnai. Kali ini oleh anak-anak yang sepertinya lebih kecil yang berseragam putih-merah. Mungkin dengan kelebihan yang berbeda...

Jadi terngiang kalimat yang diucapkan ibu kepala sekolah yang cekatan.
Siang itu dia berkata,"Di sekolah ini, berkumpul dengan anak-anak yang orang bilang cacat. Saya justru belajar banyak. Belajar mensyukuri nikmat Tuhan."

Ya.....bersyukur.
Tidak mudah untuk mampu mensyukuri apapun.
Tapi setidaknya, siang itu aku melihat dan merasa....betapa mereka tetap ceria dengan semua yang mereka miliki.
Sebuah bentuk nyata syukur.

Rabu, 04 Juni 2008

Reuni dua generasi

Settingnya adalah sebuah kamar dengan dipan kayu bersusun dua. Sebenernya ini sebuah scene yang agak kabur dari file. Detil yang kabur. Hanya satu yang tertancap kuat, dialognya. Dialog antara seseorang yang lebih tua, mungkin seorang tante dengan seorang perempuan yang baru masuk kuliah.
Dialognya kira-kira seperti ini, ”Ibumu sudah masuk stadium 4. Jadi kemungkinannya sudah tipis”.
Si anak langsung menangis tersedu-sedu membenamkan suaranya di bantal. Suara yang dia lindungi agar tidak keluar dari tembok kamar itu dan menyeberang ke kamar sebelah di mana objek pembicaraan saat itu berada.
Setelah itu, ketika dia menemani sang Ibu topeng ”biasa-biasa aja kek ga tau apa-apa” di pasang. Topeng dilepas saat sudah berjarak diiringi usaha pelepasan beban dengan seprofesional mungkin.

Hampir sepuluh tahun kemudian, topeng yang sama terpaksa kembali dipakai. Kali ini dipakai saat menemui seorang perempuan yang baru menjadi Ibu. Sang Ibu yang beberapa hari setelah berjuang keras melahirkan belum juga dapat bertemu dengan buah hatinya. Dia masih terbaring di atas kasur di sebuah ruang kelas I di rumah sakit. Sudah bisa bergerak ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, namun belum juga mampu memaksakan diri berjalan ke kamar bayi yang berjarak beberapa kamar dari situ.
Dia hanya bisa melihat wajah buah hatinya di telepon genggam suaminya. Wajah dede—begitu dia selalu memanggilnya hampir sepuluh bulan terakhir—begitu mirip dengannya. Dia sempat mempertanyakan kenapa mata si kecil tertutup. Berbagai jawaban dan alasan disampaikan dengan hati perih oleh si Bapak baru. Si Bapak baru terus berusaha tersenyum di depan kekasihnya itu. Terus berjuang keras sambil menunggu sampai tiba waktunya kisah itu dialirkan. Kisah yang pasti akan menghancurkan hati dan harapan serta mimpi mereka.

Kisah yang berseting di kamar observasi, kamar operasi, kamar pasien klas I, dan lorong-lorong sebuah rumah sakit. Sebuah kronologi kejadian dari sore hari sebelumnya dan berakhir pagi hari berikutnya. Dengan akhir yang menghancurkan hati. Ketiadaan kehidupan seseorang yang kepadanya segala harapan, mimpi, dan kasih, dicurahkan oleh ibu, bapak, dan semua orang.

Air mata akan deras mengalir mengiringi kepedihan ini.
Semoga air mata itu dapat membasuh luka yang tergores dalam.




Untuk ponakan yang cantik...
Selamat berkumpul dengan Nenek yaa. Sampaikan salamku ;)
20080601 - 07.44/07.47

Senin, 05 Mei 2008

Gula Itu Bernama Kampanye Politik

Ada gula ada semut.
Pepatah yang sangat populer untuk menggambarkan sebuah fenomena saat ada sebuah titik yang mengeluarkan aura daya tarik super kuat ke sekitarnya.
Ini lebih diawali dari karakter semut yang menyukai hal-hal yang "manis". Jadi ketika ada "gula" yang merepresentasikan sebuah ke"manis"an, maka cukuplah prasyarat menjadi daya tarik bagi sang semut.
Sosok semut dapat berupa apapun dan siapapun.
Bisa jadi ormas, kelompok masyarakat, pondok pesantren, pengurus masjid, panti asuhan, atau nama apapun yang dijadikan papan nama untuk mengumpulkan gula-gula yang seringkali bertajuk "sumbangan seikhlasnya".
Kali ini, gula itu bernama kampanye politik.
Hari ini, fenomena itu mampir di depan mata tanpa perlu mencarinya.

Jam 10 pagi lebih sedikit aku sampai ke sebuah blok ruko yang menjadi markas tim sukses salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang akan bertempur 22 Juni mendatang.
Hampir bersamaan, beberapa orang yang sepertinya bukan orang yang bekerja di kantor itu datang. Mereka duduk di sederet kursi yang ada di ruangan sempit di bagian depan kantor yang berfungsi semacam "lobi".
Aku langsung masuk ke ruang dalam-karena feelingku bilang para tamu itu adalah para "semut-semut" tadi. Dan ternyata saat aku tanyakan ke mbaknya yang ada di dalam, dia membenarkan.
Sekitar setengah jam kemudian aku pergi karena orang yang aku tunggu belum muncul.
Satu jam kemudian aku kembali dan duduk di belakang mbaknya.

Tak berapa lama ada seorang bapak berpakaian rapi identik-yang aku lihat duduk di lobi saat aku masuk kantor itu untuk yang kedua kalinya-masuk ke ruangan itu dan duduk di depan mbaknya.
Ternyata untuk menyerahkan proposal juga.
Bapak berwajah bersih dengan sedikit jenggot itu mengenakan baju koko putih yang dipadu celana kain dan sepatu gelap. Rapi.
Tanpa perlu mencuri dengar, aku yang duduk di belakang mbaknya bisa mendengar percakapan mereka.
Si Bapak mengajukan proposal permohonan sumbangan atas nama sebuah panti asuhan yang ada di salah satu tempat di luar Kota Semarang. Dana itu sekiranya untuk memenuhi pos anggaran "kebutuhan sehari-hari" panti yang mengasuh 61 anak tersebut.
Dengan ramahnya mbaknya menerima proposal dari si Bapak. Mbaknya juga menerangkan kalau untuk proposal tersebut kemungkinan tindakan lanjutan dari pihaknya baru akan dilakukan bulan berikutnya, bukan bulan ini.
Alasannya, sudah banyak proposal yang masuk sebelum proposal si Bapak. Dia menyebutkan angka 100. Selain harus prioritas yang sudah lebih dulu masuk, mbaknya juga menerangkan kalau kemungkinan pihaknya akan konsentrasi dulu untuk pemenangan timnya pada pertaruhan 22 Juni mendatang.
Si Bapak langsung waspada mendengar penjelasan ini.
Dia menegaskan apakah ini berarti pengajuan proposalnya tidak akan cepat terealisir.
Dan saat mbaknya mengiyakan, si Bapak terus mengejar apakah ini berarti proposalnya baru akan ditindaklanjuti setelah pencoblosan.
Karena indikasinya mengarah ke situ, si Bapak mencoba bernegosiasi dengan senjata bahwa bukankah kalau proposal itu bisa terealisir sebelum pencoblosan, pasangan calon yang dimaksud dapat sekalian "sosialisasi program" ke mereka. Si Bapak tampaknya mencoba mengingatkan betapa penting korelasi yang ada-antara realisasi proposal dan kesempatan kampanye bagi pasangan calon dimaksud.
Tapi tampaknya, mbaknya tak goyah (atau terlalu capek melakukan rutinitas menerima-memberi pengertian-mendengarkan pengajuan proposal-proposal yang berdatangan).
Setelah usaha negoisasi tak berhasil, si Bapak akhirnya berpamitan.

Proposal si Bapak semakin membuat tumpukan proposal di meja mbaknya meninggi. Aku perkirakan jumlahnya lebih dari lima buah.
Dia bilang, "mbak tinggal sebentar aja, proposalnya udh segini kan."
Dan kami hanya tertawa.

Menertawakan sekaligus salut pada kegigihan "semut mencari gula"

Minggu, 13 April 2008

Pada hitungan ketiga

Pada hitungan ketiga lah aku telah belajar.

Tiga kali sudah aku ngisi agenda tahunan sebuah lembaga pers mahasiswa (LPM) universitas negeri di Semarang.
Pesertanya beragam dari tahun ke tahun, dari mahasiswa umum, mahasiswa yang sekaligus anggota LPM, dan beberapa orang yang tertarik dengan jurnalistik.
Memang, agenda itu semacam pelatihan jurnalistik dasar.
Dan salah satu sesi-nya mengenai penelitian dan pengembangan di media massa.

Pengalaman pertamaku, langsung di depan audiens yang jumlahnya sekitar seratus. Grogi pastinya. Panas dingin. Untungnya, materi aku sendiri yang bikin hasil modifikasi dari materi pelatihan milik bos kala itu. Untungnya lagi, beberapa saat sebelumnya bos kala itu sempat sengaja men-training aku untuk memberi pelatihan. Saat itu, bos kala itu (yang kepadanya aku selalu berterimakasih atas pelajaran2 hebat yang dia berikan) mengajakku untuk melihat blio memberi pelatihan. Gayanya memang selalu mengesankan di depan audiens. Aku belum apa-apanya. Pelajaran penting dari pengalaman pertamaku...kuasai diri, jangan berbicara dengan diri sendiri (di dalam benak) saat berbicara dengan audiens, jangan bertanya2 bagaimana penampilanku saat aku sedang menampilkan diri...intinya: control urself! n satu lagi: pertimbangkan penggunaan waktu.

Pengalaman keduaku, kali ini audiens-nya tidak sebanyak yang pertama, meski tetap penuh ruangannya. Aku mencoba hal yang baru...tidak membawa hand-out materi. Kali itu aku lebih banyak bercerita mengenai pengalamanku sebagai staf Litbang. Memang lebih cair dan aku lebih bisa menguasai diri. Pelajaran dari pengalaman kedua...pengulangan selalu memberi kesempatan perbaikan. (makasih buat seseorang yang dengan setia duduk di kursi belakang hehehehe)

Pengalaman ketiga, berbeda gedung lagi dengan isi sekitar 80an. Kali ini aku membawa materi berupa pointer n penjelasan singkatnya yang aku siapin beberapa jam sebelumnya. Pertimbangannya: cerita pengalaman memang asyik didengarkan, tapi apakah cukup mengena dan mampu memberi gambaran mengenai apa n bagaimana Litbang di media massa. Keknya sih dengan itu, kisahnya jadi lebih sistematis. Sesi diskusinya juga seru. Tapi keknya di tengah-tengah aku masih kepleset ga sistematis ngomongnya n kecepetan ga ya tadi ngomongnya?

Pengalaman dari ketiganya: Pilih waktu yang tepat saat memberi materi!
Yang pertama n kedua aku taken for granted aja ma jadwal yang dikasih panitia: sekitar jam 11 lebih dengan waktu sekitar 45 menit.
Hasilnya, audiens sendiri udah pada bete, cenderung males karena udah capek n hawanya pingin istirahat siang. Tidak menguntungkan buat berbicara (apalagi dengan kemampuan menarik perhatian yang masih terbatas hehehehe)
Karena itulah, yang ketiga ini sebelumnya aku minta ke panitia buat ganti jam. dari sesi ketiga yang hampir siang itu ke sesi kedua yang ada di tengah antara pagi dan siang.
Memang beda ternyata. Tadi, hanya beberapa orang yang keliatan tidak mendengarkan. Sebagian besar masih berminat mendengarkan celotehan sok tau dari aku hehehehe...keliatan dari mata mereka.

Hmm...klise tapi bener: Pengalaman adalah guru yang terbaik